Megapolitan . 03/05/2026, 17:19 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk membantu PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam membenahi perlintasan sebidang yang belum dilengkapi palang pintu. Menurut Pramono, dukungan tersebut akan diberikan apabila ada penugasan resmi dari pemerintah pusat.
"Pemerintah DKI Jakarta kalau kemudian ada penugasan yang diberikan, kami akan dengan senang hati untuk memberikan support kepada KAI," kata Pramono di Mercure Jakarta Grogol, Jakarta Barat, dikutip Minggu, 3 Mei 2026.
Ia menegaskan, pengelolaan perlintasan sebidang sepenuhnya menjadi kewenangan KAI, sehingga Pemprov DKI tidak dapat melakukan penanganan secara sepihak tanpa koordinasi dan persetujuan.
"Kita ketahui bersama, untuk lintasan rel kereta api itu memang menjadi tanggung jawab atau kewenangan dari KAI," ujarnya.
Manager Humas KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta, Franoto Wibowo mengungkapkan, terdapat 423 titik perlintasan sebidang yang tersebar di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Dari jumlah tersebut, sebanyak 130 titik belum dilengkapi palang atau penjaga resmi.
"Perlintasan yang dijaga 293 titik," ujarnya.
Selain itu, tercatat pula 118 titik perlintasan tidak sebidang yang telah dilengkapi fasilitas flyover dan underpass.
Isu keselamatan di perlintasan sebidang kembali menjadi sorotan setelah kecelakaan tragis yang melibatkan KRL dan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur.
Kepala Seksi Kumpul Olah Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan bahwa insiden bermula dari sebuah taksi listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang di Jalan Ampera.
Saat kendaraan tersebut berhenti di jalur rel, KRL dari arah Cikarang melaju dengan kecepatan tinggi dan menabraknya hingga terseret puluhan meter.
Dampak kecelakaan tersebut menyebabkan gangguan perjalanan kereta, hingga akhirnya satu rangkaian KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju sekitar 110 kilometer per jam.
"Ketika itu sedang melintas dengankecepatan 110 kilometer per jam. Terjadilah tabrakan di stasiun Bekasi Timur lebih tepatnya, yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia," ujar Sandhi.
Peristiwa tersebut mengakibatkan belasan penumpang meninggal dunia, terutama dari gerbong khusus perempuan, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media