Nasional . 05/05/2026, 18:27 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
Dalam periode pemantauan terbaru, getaran banjir juga terekam. Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas lahar di aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama menuju Besuk Kobokan.
Selain itu, deformasi tubuh gunung menunjukkan kondisi yang stabil. Tidak ada peningkatan tekanan signifikan yang mengarah ke permukaan. Aktivitas erupsi dan embusan yang terjadi lebih disebabkan oleh material permukaan yang tidak stabil.
Badan Geologi menegaskan bahwa awan panas yang terjadi saat ini lebih bersifat mekanik, bukan akibat proses magmatik dari dalam gunung.
Dengan seluruh hasil analisis tersebut, status Gunung Semeru tetap berada di Level III atau Siaga. Pemerintah mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak gunung. Zona ini menjadi area paling berbahaya karena potensi awan panas dan aliran material vulkanik.
Selain itu, warga juga tidak boleh beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area ini berisiko terdampak perluasan awan panas hingga 17 km dari puncak.
Di sisi lain, radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga ditetapkan sebagai zona terlarang karena rawan lontaran batu pijar.
Tidak hanya Besuk Kobokan, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan di sejumlah aliran sungai lain seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan juga masuk dalam zona rawan lahar.
Peringatan ini menjadi sinyal kuat bahwa ancaman Gunung Semeru belum mereda. Aktivitas vulkanik masih aktif, dan kondisi cuaca dapat menjadi pemicu tambahan bagi bencana susulan.
Meski tidak menunjukkan suplai magma baru, Gunung Semeru tetap berada dalam kondisi aktif dengan potensi bahaya yang signifikan. Aktivitas permukaan, lahar, hingga awan panas masih bisa terjadi kapan saja.
Status Siaga Level III yang dipertahankan hingga April 2026 menjadi pengingat bahwa risiko belum hilang. Warga di sekitar kawasan Semeru perlu tetap waspada dan mengikuti seluruh arahan otoritas kebencanaan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media