Viral . 06/05/2026, 22:41 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Dunia kembali dikejutkan oleh kemunculan talenta luar biasa dari Meksiko. Edgar David Camacho Flores, bocah laki-laki berusia 10 tahun, tercatat memiliki skor IQ sebesar 162. Angka ini secara teknis melampaui estimasi kecerdasan fisikawan legendaris Albert Einstein dan Stephen Hawking yang berada di kisaran 160.
Namun, di balik angka fantastis tersebut, David—begitu ia akrab disapa—memiliki perspektif yang sangat membumi mengenai makna sebuah kejeniusan. Namun yang mengejutkan, David justru menolak disebut sebagai “anak jenius”.
"Seorang jenius biasanya sudah berada di liang lahat karena mereka telah menyelesaikan hal-hal luar biasa sepanjang hidupnya. Saya baru 10 tahun dan baru memulai perjalanan. Mungkin saya baru layak disebut jenius saat berusia 70 tahun nanti," ungkap David dengan gaya bahasa yang tertata rapi.
Kecerdasan David bukanlah sekadar angka. Di usia yang masih belia, ia telah menguasai berbagai bahasa asing. Termasuk Spanyol, Inggris, Prancis, Jerman, dan sedang mendalami Rusia, Portugis, hingga Italia.
Kecepatannya dalam menyerap informasi sering kali membuat orang dewasa di sekitarnya terpana.
"Banyak orang mengira saya tahu segalanya. Tetapi saya bukan peramal. Jika saya belum mempelajari sesuatu, saya tidak akan tahu jawabannya. Saya juga tetap butuh diajar," kata David Camacho Flores.
Meski memiliki kemampuan otak di atas rata-rata, kehidupan sosial David tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami perundungan (bullying) yang sangat traumatis di sekolah formalnya terdahulu.
Teman-teman sebaya sering kali tidak memahami mengapa David bisa memahami materi pelajaran jauh lebih cepat, yang kemudian berujung tindakan intimidasi.
Alih-alih terpuruk, David justru menggunakan pengalaman pahit tersebut sebagai bahan bakar inovasi. Ia kini tengah mengembangkan Macayos, sebuah platform digital berbasis Kecerdasan Buatan (AI) pertama di Meksiko.
Aplikasi ini dirancang khusus untuk membantu anak-anak mengelola emosi dan kesehatan mental mereka melalui pendekatan yang menyenangkan.
Inspirasi terbesar David bukanlah ilmuwan modern. Melainkan tokoh polimata Renaisans, Leonardo da Vinci. Saking kagumnya, ia menggunakan nama "David da Vinci" di media sosial. Ambisinya tidak main-main.
David bercita-cita menjadi the next Elon Musk. Yakni jadi dokter pertama yang melakukan operasi bedah di luar angkasa dan mendirikan perusahaan teknologi setara SpaceX.
Ibu David, Claudia Flores, mengungkapkan tantangan besar dalam membesarkan anak dengan kemampuan tinggi (gifted).
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media