Nasional . 11/05/2026, 12:36 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Belakangan ini masyarakat mulai merasakan kenaikan harga kantong kemasan plastik di pasaran. Ternyata, lonjakan ini bukan tanpa alasan. Melambungnya harga minyak bumi dunia menjadi pemicu utama naiknya biaya produksi plastik. Masalahnya, jika harga kemasan terus merangkak naik, harga makanan dan minuman pun berisiko ikut terkerek.
Di Indonesia sendiri, kebutuhan bahan baku petrokimia untuk memproduksi plastik mencapai angka jutaan ton setiap tahunnya. Ketergantungan kita terhadap stabilitas pasokan minyak bumi dan turunannya sangatlah tinggi, mengingat plastik sudah menyatu dengan aktivitas harian masyarakat.
Dosen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Rochmadi, S.U., Ph.D., IPU., memberikan pandangannya terkait situasi ini.
“Kebutuhannya memang besar, karena polyethylene dan polypropylene sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain untuk kemasan, juga digunakan di dashboard kendaraan, peralatan rumah tangga, dan berbagai produk lainnya,” ujar Prof. Rochmadi, Senin, 11 Mei 2026.
Selama ini, industri petrokimia global sangat mengandalkan nafta sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Nafta sendiri adalah fraksi minyak bumi dengan rantai hidrokarbon pendek (C5 hingga C12). Melalui proses yang disebut cracking, nafta diolah menjadi etilena dan propilena—dua zat utama pembentuk plastik jenis polyethylene dan polypropylene.
“Sekitar 30 persen nafta dapat diubah menjadi etilena dan sekitar 20 persen menjadi propilena, sementara sisanya menjadi produk lain seperti residu karbon dan senyawa rantai pendek,” jelas Prof. Rochmadi.
Sayangnya, Indonesia saat ini berstatus sebagai net importer minyak bumi. Artinya, gangguan pasokan global atau kenaikan harga nafta langsung memukul biaya produksi industri hilir kita. Selain itu, industri petrokimia harus berebut nafta dengan sektor energi, karena zat ini juga merupakan bahan baku bensin.
Muncul ide untuk mengganti nafta dengan LPG sebagai bahan baku. Secara teknis, hal ini memang memungkinkan karena LPG mengandung senyawa C3, C4, dan C5 yang menyerupai nafta ringan. Namun, langkah ini bukan tanpa tantangan besar.
Prof. Rochmadi menjelaskan bahwa pabrik-pabrik saat ini sudah memiliki desain khusus untuk nafta. Jika beralih ke LPG, industri perlu mengevaluasi ulang proses produksi atau bahkan mengganti peralatan lama.
“Karena desain awal pabrik dibuat untuk nafta, ketika disubstitusi dengan LPG tentu perlu evaluasi ulang terhadap kondisi prosesnya. Jadi secara teknis bisa dilakukan, tetapi ada konsekuensi biaya tambahan,” tambahnya. Meski rute prosesnya berbeda, ia menjamin kualitas plastik yang dihasilkan nantinya akan tetap sama.
Menghadapi ketergantungan pada minyak bumi yang kian mahal, Prof. Rochmadi mendorong pemerintah untuk melirik potensi biomassa. Ia menyoroti keberhasilan Brasil yang sudah sangat maju dalam mengembangkan etilena dari etanol berbasis biomassa.
Menurutnya, biomassa adalah jalur masa depan yang sangat potensial. Jika teknologi ini dikembangkan secara serius, Indonesia tidak perlu lagi merasa was-was setiap kali harga minyak dunia bergejolak.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media