Internasional . 11/05/2026, 06:49 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Kabar segar datang dari meja diplomasi internasional. Pemerintah Pakistan mengonfirmasi telah menerima dokumen tanggapan dari Iran terkait usulan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang tengah berkecamuk. Langkah ini menjadi titik terang setelah ketegangan panjang yang mengganggu stabilitas global.
Seorang pejabat pemerintah Pakistan yang terlibat langsung dalam pembicaraan ini menyatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya telah meneruskan pesan Teheran tersebut kepada pihak AS. Meskipun detail isi dokumen belum terungkap sepenuhnya, langkah ini menandakan jalur komunikasi antarnegara tetap terbuka di tengah situasi yang panas.
“Republik Islam Iran hari ini mengirimkan melalui mediator Pakistan tanggapannya terhadap teks terbaru yang diusulkan oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri perang,” kata kantor berita resmi IRNA.
Berdasarkan informasi dari sumber internal, fokus utama Iran dalam negosiasi saat ini adalah penghentian permusuhan secara total di kawasan tersebut. Menariknya, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal positif dalam wawancaranya pada hari Sabtu. Trump menyebut bahwa Teheran terlihat tertarik untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih luas.
Menurut Trump, diskusi yang sedang berlangsung mengarah pada upaya mengakhiri konflik di "semua lini," dengan penekanan khusus pada situasi di Lebanon. Meskipun Washington mengutamakan jalur diplomatik, Trump tetap mengingatkan bahwa opsi militer tetap mereka siapkan jika proses negosiasi ini menemui jalan buntu.
Upaya perdamaian terbaru ini kabarnya bertujuan untuk mencapai nota kesepahaman (MoU) sementara. Tujuannya sangat krusial bagi ekonomi dunia: menghentikan perang sejenak dan membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Selama ini, Teheran memblokir sebagian besar pelayaran di selat sempit tersebut, padahal jalur ini membawa seperlima pasokan minyak dunia. Jika kesepakatan awal ini berhasil, kedua belah pihak baru akan beranjak membahas isu yang lebih berat, seperti program nuklir Iran.
Salah satu bukti nyata dari upaya pembangunan kepercayaan ini adalah melintasnya kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat. Kapal ini berhasil melewati Selat Hormuz menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan dengan aman. Ini merupakan kapal Qatar pertama yang melintas sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.
Upaya mengakhiri perang ini memang sangat mendesak. Presiden Trump sendiri menghadapi tekanan besar untuk menuntaskan konflik sebelum kunjungannya ke China minggu ini, mengingat krisis energi global yang kian mengancam ekonomi dunia.
Namun, jalan menuju damai tidaklah mulus. Meski ada jeda tenang selama 48 jam, ancaman keamanan masih terasa nyata:
Merespons situasi ini, Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, secara tegas mengingatkan Menteri Luar Negeri Iran agar tidak menjadikan Selat Hormuz sebagai "alat tekanan." Menurutnya, kebebasan navigasi adalah hal mutlak yang tidak boleh dikompromikan demi menghindari krisis yang lebih dalam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media