Kesehatan . 11/05/2026, 18:58 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat untuk lebih memperketat kebersihan lingkungan. Tujuannya jelas: mencegah penularan hantavirus, sebuah infeksi virus yang sumber utamanya berasal dari tikus.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menekankan bahwa kesadaran masyarakat adalah kunci utama. Kebersihan lingkungan sangat menentukan apakah tikus-tikus pembawa penyakit tersebut akan bersarang di sekitar tempat tinggal kita atau tidak.
"Di samping kebersihan lingkungan, kita harus betul-betul aware (sadar) terkait dengan sumber penularan hantavirus yang infeksinya dari tikus. Artinya, tikus itu jangan sampai berkeliaran dan lain sebagainya, itu kan sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan," ujar Andi dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.
Salah satu poin penting yang Andi soroti adalah risiko penularan di daerah yang sering mengalami banjir. Saat air naik, tikus-tikus akan keluar dari sarangnya dan sekresi (kotoran atau urine) mereka bisa mencemari air banjir tersebut.
Andi mengingatkan masyarakat, terutama anak-anak, agar tidak menganggap banjir sebagai sarana hiburan. Risiko penyakit menular seperti hantavirus dan leptospirosis mengintai di balik genangan air tersebut.
"Jadi, ketika terjadi banjir itu jangan malah main-main banjir begitu, seperti kolam renang raksasa katanya, karena sebenarnya itu berisiko untuk terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah hantavirus tersebut," tegasnya.
Isu ini mencuat menyusul adanya klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di kawasan Atlantik dan Afrika. Virus yang menyerang di sana adalah jenis Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes. Strain ini cukup berbahaya karena memiliki tingkat kematian yang tinggi.
Namun, kabar baiknya adalah strain virus yang menjangkiti kapal tersebut berbeda dengan yang ditemukan di Indonesia. Sejauh ini, Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS. Sejak tahun 1991, Indonesia hanya mencatat infeksi hantavirus tipe Haemorhaggic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah yang sangat terbatas.
Meskipun risiko tetap ada di 23 daerah tertentu, Kemenkes menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kasus penularan hantavirus dari tikus ke manusia di tanah air. Walaupun kondisinya masih aman, masyarakat diminta tidak lengah.
Menjaga sanitasi rumah dan memastikan tidak ada sisa makanan yang mengundang tikus masuk ke dalam hunian adalah solusi sederhana namun sangat efektif. Dengan lingkungan yang bersih, masyarakat bisa melindungi keluarga dari ancaman hantavirus maupun penyakit menular lainnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media