Ketegangan semakin tajam setelah Presiden Rodrigo Paz memperkenalkan paket 10 rancangan undang-undang baru yang berkaitan dengan sektor hidrokarbon, pertambangan, kelistrikan, investasi asing, ekonomi hijau, hingga pengurangan aparatur negara.
Pemerintah menyebut reformasi tersebut diperlukan untuk memodernisasi ekonomi Bolivia dan menarik investasi asing. Namun, serikat pekerja dan kelompok masyarakat adat menilai kebijakan itu mengancam model ekonomi yang dibangun pada era pemerintahan Evo Morales yang menempatkan negara sebagai aktor utama di sektor-sektor strategis.
Kelompok oposisi bahkan menyebut paket reformasi itu sebagai “paket kejutan” yang dianggap berpotensi membuka privatisasi sektor penting seperti energi, air, dan pendidikan.
Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Mauricio Zamora menegaskan Presiden Rodrigo Paz tidak akan mundur dari jabatannya. Ia juga menuduh kelompok demonstran berupaya menggulingkan pemerintahan secara paksa.
Pemerintah kembali menyerukan dialog setelah bentrokan terjadi pekan lalu di pusat kota La Paz. Dalam insiden itu, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa yang menduduki kantor Kementerian Tenaga Kerja. Sebanyak 13 orang dilaporkan ditahan.
Meski pemerintah menawarkan dialog, COB menolak mengakui Menteri Tenaga Kerja Édgar Morales sebagai perwakilan resmi pemerintah dan menegaskan aksi mogok nasional akan terus berlangsung hingga tuntutan mereka dipenuhi.