Angka tersebut membuat banyak orang mulai mempertanyakan efektivitas pendidikan tinggi saat ini.
Banyak keluarga merasa telah mengeluarkan biaya besar selama bertahun-tahun, tetapi hasil akhirnya tidak sesuai ekspektasi.
Pertanyaan seperti “untuk apa kuliah mahal kalau akhirnya kerja tidak sesuai jurusan?” pun semakin sering muncul.
Pemerintah Ingin Jurusan yang Tak Relevan Ditata Ulang
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mulai mendorong penataan ulang program studi di perguruan tinggi.
Jurusan yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri disebut akan dievaluasi, digabungkan, bahkan berpotensi ditutup.
Fokus pendidikan tinggi diarahkan ke bidang-bidang strategis seperti:
-
Digitalisasi
-
Energi
-
Ketahanan pangan
-
Kesehatan
-
Pertahanan
-
Maritim
-
Hilirisasi industri
-
Manufaktur maju
Tujuannya adalah agar lulusan perguruan tinggi lebih mudah terserap ke dunia kerja dan sesuai kebutuhan industri masa depan.
Meski pemerintah menegaskan penutupan jurusan adalah langkah terakhir, publik telanjur menangkap pesan bahwa jurusan yang dianggap “tidak laku” terancam kehilangan tempat.
Kampus Dinilai Makin Mirip Perusahaan
Fenomena ini dianggap sejalan dengan kritik yang pernah dibahas dalam buku Dark Academia: How Universities Die karya Peter Fleming.
Dalam buku tersebut, Fleming menggambarkan universitas modern yang semakin dikelola seperti perusahaan bisnis.
Segala hal diukur berdasarkan angka:
-
Jumlah publikasi
-
Peringkat kampus
-
Kerja sama industri
-
Persentase lulusan cepat bekerja