Ekonomi . 20/05/2026, 16:57 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
“Masalah utamanya bukan semata substansi kebijakannya, tetapi ketidakpastian prosesnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan pasar pada dasarnya masih bisa menerima perubahan kebijakan selama arah dan desainnya jelas. Namun jika gagasan besar muncul tanpa penjelasan rinci maupun konsultasi terbuka dengan pelaku usaha, investor cenderung membangun persepsi risiko yang lebih tinggi.
Kekhawatiran investor meliputi potensi distorsi harga, margin perusahaan yang tertekan, hingga meningkatnya intervensi negara terhadap mekanisme perdagangan komoditas.
Sentimen negatif tersebut turut memengaruhi pasar saham domestik. Pada perdagangan Selasa (19/5/2026), IHSG tercatat melemah hingga 3,46 persen. Di saat yang sama, rupiah juga mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini berbeda dengan mayoritas bursa regional Asia yang cenderung bergerak lebih stabil. Hal tersebut memperlihatkan bahwa investor melihat adanya risiko domestik yang sedang meningkat di Indonesia.
Meski begitu, pemerintah meminta publik menunggu penjelasan resmi terkait arah kebijakan ekonomi nasional.
Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan segera menyampaikan penjelasan lebih rinci mengenai kondisi ekonomi dan strategi fiskal yang disiapkan.
“Kita tunggu akan bicara mengenai kondisi ekonomi,” kata Airlangga.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan Presiden turun langsung membacakan KEM-PPKF RAPBN 2027 karena dokumen tersebut memuat program-program unggulan pemerintah.
“Di KEM-PPKF itu ada program-program unggulan Presiden. Jadi harus beliau yang ngomong, bukan saya,” ujar Purbaya.
Langkah Presiden Prabowo yang mengambil langsung peran dalam penyampaian arah fiskal dinilai akan menjadi perhatian besar pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan, terutama terkait konsistensi kebijakan ekonomi dan stabilitas iklim investasi nasional. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media