Ekonomi . 20/05/2026, 07:12 WIB

Rupiah Melemah, Apakah Harga BBM Subsidi Akan Naik? Ini Jawaban Menteri ESDM

Penulis : Afdal Namakule  |  Editor : Afdal Namakule

fin.co.id -  Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar belum akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak mentah Indonesia terus bergerak naik dan nilai tukar rupiah melemah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan harga BBM subsidi masih aman dan belum ada rencana penyesuaian dalam waktu dekat.

“Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan (harga BBM subsidi),” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa.

Pernyataan itu disampaikan di tengah melonjaknya harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 yang mencapai 117,31 dolar AS per barel.

Meski demikian, Bahlil mengatakan rata-rata ICP sejak Januari 2026 masih berada di kisaran 80 hingga 81 dolar AS per barel sehingga kondisi tersebut dinilai belum membahayakan stabilitas harga BBM subsidi.

“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” kata Bahlil.

Ia pun memastikan harga Pertalite dan Biosolar diproyeksikan tetap stabil hingga akhir tahun 2026.

“Insyaallah sampai akhir tahun,” ucapnya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mencatat ICP April 2026 mengalami lonjakan sebesar 15,05 dolar AS dibandingkan Maret 2026 yang berada di angka 102,26 dolar AS per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan kenaikan harga minyak dunia dipicu eskalasi konflik geopolitik yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global, terutama di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I 2026 sebesar 5 persen secara tahunan juga disebut ikut mendorong permintaan minyak dunia.

Meski harga minyak global masih berpotensi tertekan situasi geopolitik, pemerintah melihat ada sejumlah faktor yang bisa menahan kenaikan harga.

Laode menyebut proyeksi penurunan permintaan minyak dunia pada triwulan II 2026 sekitar 5 juta barel per hari secara tahunan serta peluang terbukanya kembali jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat dapat menjadi penahan lonjakan harga minyak dunia. *

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com