Internasional . 21/05/2026, 11:16 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, mengungkap dugaan kekerasan terhadap aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan setelah armada bantuan menuju Gaza dicegat oleh Israel di perairan internasional.
Dalam pernyataannya pada Rabu (20/5), Adalah menyebut para aktivis mengalami kekerasan fisik maupun psikologis selama berada dalam tahanan. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan mengalami sengatan listrik berulang.
Tim hukum Adalah mengaku telah mengumpulkan sejumlah kesaksian yang saling menguatkan terkait dugaan penyiksaan terhadap para tahanan.
Sedikitnya tiga aktivis dilaporkan harus menjalani perawatan rumah sakit akibat luka serius. Selain itu, puluhan aktivis lainnya disebut mengalami dugaan patah tulang rusuk dan gangguan pernapasan setelah mengalami kekerasan saat ditahan.
Adalah juga mendokumentasikan laporan mengenai perlakuan yang dianggap menghinakan selama proses pemindahan para aktivis ke Pelabuhan Ashdod. Para tahanan disebut dipaksa berjalan dalam posisi membungkuk dan berlutut dalam waktu lama.
Tidak hanya itu, otoritas Israel juga dituduh secara paksa melepas jilbab sejumlah aktivis perempuan yang ikut dalam armada tersebut.
Menurut Adalah, para tahanan dijadwalkan menjalani proses pemeriksaan di pengadilan atau otoritas terkait pada Kamis untuk menentukan status penahanan mereka sebelum proses deportasi dilakukan.
Sebelumnya, Adalah menuding otoritas Israel menerapkan kebijakan kriminal berupa penyiksaan dan penghinaan terhadap para aktivis.
Tuduhan itu mencuat setelah beredarnya video yang diunggah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir di media sosial. Dalam video tersebut, para aktivis tampak berlutut dengan tangan diborgol di belakang punggung dan wajah menghadap lantai, sementara lagu kebangsaan Israel diputar.
Para aktivis sebelumnya dipindahkan ke Pelabuhan Ashdod usai kapal Global Sumud Flotilla dicegat oleh Israel di perairan internasional.
Adalah juga menyoroti minimnya informasi terkait lokasi, kondisi, dan status hukum para tahanan yang disebut sangat dibatasi oleh otoritas Israel.
Global Sumud Flotilla diketahui berangkat dari distrik Marmaris, Turki, pada Kamis pekan lalu dalam upaya menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 2007.
Insiden terhadap armada tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada akhir April lalu, militer Israel juga dilaporkan menyerang kapal armada di dekat Pulau Kreta, Yunani, saat konvoi membawa 345 peserta dari 39 negara.
Israel sendiri telah memberlakukan blokade ketat terhadap Jalur Gaza sejak 2007 yang membuat jutaan warga di wilayah tersebut berada dalam kondisi krisis kemanusiaan.
Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel di Gaza dilaporkan telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, serta menyebabkan kerusakan besar di wilayah tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media