Internasional . 24/05/2026, 23:34 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengambil langkah mundur yang cukup mengejutkan terkait tensi geopolitik di Timur Tengah. Hanya berselang kurang dari sehari setelah mengumumkan bahwa draf perdamaian dengan Teheran sudah sebagian besar selesai, ia kini menegaskan tidak akan terburu-buru. Trump mengaku telah menginstruksikan para perwakilan diplomatiknya untuk santai saja karena merasa waktu berada di pihak mereka.
Melalui akun media sosial Truth Social pada Minggu, 24 Mei 2026, pemimpin AS ini memastikan bahwa tekanan ekonomi dan militer terhadap Teheran belum akan mengendur dalam waktu dekat. Kebijakan ketat ini akan terus berjalan sampai kedua belah pihak benar-benar mencapai kata sepakat secara hitam di atas putih.
“Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya sampai kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani. Kedua belah pihak harus meluangkan waktu dan melakukannya dengan benar,” tulis Trump di Truth Social.
Meskipun menahan diri, Trump menilai dinamika komunikasi antar-negara ini sudah berjalan ke arah yang lebih positif daripada sebelumnya. “Tidak boleh ada kesalahan! Hubungan kita dengan Iran menjadi jauh lebih profesional dan produktif,” tambah Trump mengomentari perkembangan diplomasi tersebut.
Di tengah bergulirnya proses meja perundingan, pihak Israel langsung bergerak cepat untuk memastikan kepentingan keamanan mereka tidak terganggu. Seorang pejabat senior Israel membisikkan kepada AFP bahwa Donald Trump telah memberikan jaminan kuat kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai masa depan stabilitas kawasan.
Dalam obrolan telepon yang berlangsung pada Sabtu malam tersebut, Trump berjanji tidak akan melunakkan posisinya terhadap ancaman pemusnah massal Teheran. AS mematok syarat mati yang tidak bisa mereka tawar lagi oleh pihak lawan.
“Presiden Trump menegaskan bahwa ia akan tetap teguh dalam negosiasi terkait tuntutannya yang sudah lama untuk pembongkaran program nuklir Iran dan pemindahan semua uranium yang diperkaya dari wilayah Iran, dan bahwa ia tidak akan menandatangani perjanjian akhir tanpa syarat-syarat ini,” tutur pejabat senior Israel tersebut.
Hingga saat ini, pihak Gedung Putih terus menyuplai informasi terbaru kepada Tel Aviv mengenai progres penyusunan nota kesepahaman (MoU). Fokus draf awal tersebut masih berkisar pada rencana pembukaan kembali Selat Hormuz secara aman, sebelum nantinya mereka melangkah menuju pembahasan masalah-masalah sengketa lain yang belum terselesaikan.
Selain urusan nuklir, isu panas seputar pergerakan milisi regional juga menjadi topik utama dalam komunikasi kedua kepala negara. Sebuah sumber internal Israel membocorkan bahwa Netanyahu telah menegaskan posisi militer negaranya kepada Trump. Selama perundingan Washington dan Teheran berjalan, Israel menolak jika tangan mereka terikat untuk melakukan operasi militer di Lebanon.
“Dalam percakapan tadi malam dengan Presiden Trump, Perdana Menteri menekankan bahwa Israel akan mempertahankan kebebasan bertindak terhadap ancaman di semua arena, termasuk Lebanon, dan Presiden Trump menegaskan kembali dan mendukung prinsip ini,” ungkap seorang sumber politik Israel kepada Reuters pada hari Minggu yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Padahal, publik dunia sebelumnya sempat menaruh harapan besar bahwa perang tiga bulan ini akan segera menemui jalan damai. Apalagi setelah Trump mengumumkan adanya nota kesepahaman terobosan yang melibatkan Pakistan sebagai mediator demi memulihkan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Jalur vital logistik energi itu sendiri diketahui macet total sejak AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada Februari lalu.
Di sisi lain, media Iran Fars ikut memberikan bocoran mengenai isi draf kesepakatan damai tersebut. Menurut laporan mereka, perjanjian itu mengatur skema timbal balik:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media