Internasional . 31/05/2026, 23:11 WIB

Donald Trump Perketat Persyaratan Damai, Iran Tegaskan Tidak Mempercayai AS!

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

Stasiun penyiaran negara Iran, IRIB, melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menembak jatuh sebuah drone militer AS yang dituding akan memasuki perairan teritorial Iran. Namun, hingga kini pihak Washington sendiri belum memberikan konfirmasi resmi mengenai jatuhnya pesawat tanpa awak tersebut.

Awal pekan ini, bentrokan terburuk sejak masa gencatan senjata meletus hebat ketika pasukan militer AS melancarkan serangan langsung di pelabuhan Bandar Abbas di Iran. Serangan agresif ini langsung memicu tembakan balasan yang sengit dari pihak militer Iran.

Meskipun situasi di lapangan terus bergejolak, jalur diplomasi terpaksa tetap berjalan. Donald Trump sendiri berada di bawah tekanan besar global untuk segera mengamankan kesepakatan yang bisa mencabut blokade saling bersaing antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Blokade ketat ini telah mencekik jalur vital bagi pasokan minyak internasional dan mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Terkait aturan navigasi di selat tersebut, terjadi silang pendapat yang tajam:

  • Pernyataan Trump: Trump sempat menyatakan bahwa Teheran tidak akan mengenakan "pungutan tol" pada kapal yang melewati selat tersebut dalam kesepakatan apa pun setelah blokade dicabut.
  • Bantahan Media Iran: Kantor berita Fars mengutip sumber internal yang menegaskan "tidak ada klausul seperti itu" di dalam draf perjanjian.
  • Rencana Undang-Undang Baru: Kantor berita semi-resmi Iran, ISNA, pada hari Sabtu mengutip anggota parlemen Alireza Salimi yang menyatakan bahwa rencana "untuk menerapkan pengelolaan dan kedaulatan Iran" atas selat tersebut—termasuk pengenaan "biaya administrasi" untuk navigasi—akan segera diajukan ke parlemen dalam waktu dekat.

Perluasan Front Lebanon dan Jatuhnya Benteng Strategis Beaufort ke Tangan Israel

Di paruh front pertempuran lainnya, situasi mematikan juga terjadi di wilayah selatan Lebanon. Pemerintah Israel mengonfirmasi pada hari Minggu bahwa pasukan darat mereka telah berhasil menyeberang Sungai Litani. Lambang bendera Israel kini telah berkibar di atas benteng abad pertengahan Beaufort yang sangat strategis di Lebanon selatan.

Sejumlah saksi mata melaporkan kepulan asap tebal mengepul dari daerah sekeliling benteng saat bendera pasukan penyerang mulai terlihat di puncak bangunan kuno tersebut. Sejarah mencatat, benteng Beaufort ini terkenal karena pernah digunakan Israel sebagai basis militer utama selama masa pendudukan mereka selama dua dekade sebelumnya.

Operasi ofensif ke Beaufort ini berjalan bersamaan dengan langkah militer Israel yang mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran bagi warga sipil di daerah-daerah di selatan Sungai Zahrani, utara Litani, atau sekitar 40 kilometer (25 mil) dari garis perbatasan. Pihak Israel memperingatkan warga bahwa seluruh serangan tersebut sengit menargetkan basis persembunyian Hizbullah.

Keberhasilan merebut benteng pertahanan ini disambut gembira oleh jajaran eksekutif Tel Aviv. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut capaian ini sebagai bukti perubahan taktik militer mereka yang semakin agresif di kawasan Timur Tengah.

“Perebutan Beaufort adalah tahap dramatis dan perubahan dramatis dalam kebijakan yang kami pimpin. Kami telah menghancurkan penghalang rasa takut. Kami mengambil inisiatif, kami beroperasi di semua lini – di Suriah, di Gaza, di Lebanon,” tegas Benjamin Netanyahu saat mengomentari jatuhnya wilayah strategis tersebut.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com