Internasional . 03/06/2026, 20:30 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, masih hidup dan disebut semakin berperan dalam pengambilan keputusan strategis negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Rubio dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada Selasa (2/6/2026), di tengah upaya Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan pascakonflik yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Menurut Rubio, Mojtaba Khamenei memang belum terlihat di hadapan publik sejak mengalami cedera pada awal perang yang pecah pada 28 Februari 2026.
Namun, berbagai indikasi menunjukkan bahwa putra mendiang Ali Khamenei itu tetap aktif mengendalikan arah kebijakan Iran dari balik layar.
"Kami belum melihatnya di depan umum. Namun terdapat indikasi bahwa dia semakin terlibat dalam berbagai proses pengambilan keputusan, meskipun komunikasi yang dilakukan masih melalui perantara dan jalur tertulis," kata Rubio.
Pernyataan tersebut semakin menguatkan spekulasi bahwa Mojtaba Khamenei kini menjadi figur paling berpengaruh di Iran setelah kematian ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik.
Laporan sejumlah media Amerika menyebut Mojtaba Khamenei saat ini berada di lokasi rahasia dengan pengamanan sangat ketat. Bahkan, pejabat intelijen AS meyakini ia tinggal di sebuah bunker yang dirancang untuk melindunginya dari ancaman serangan lanjutan.
Menurut laporan yang dikutip dari CBS, akses terhadap Mojtaba Khamenei sangat terbatas. Komunikasi dengan dirinya hanya dapat dilakukan melalui jaringan kurir dan perantara khusus yang membuat proses penyampaian pesan menjadi lebih lambat.
Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu penyebab lambatnya perkembangan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Para pejabat Iran yang terlibat dalam pembicaraan diplomatik juga dikabarkan menghadapi kendala komunikasi internal sehingga respons terhadap proposal yang diajukan Washington membutuhkan waktu lebih lama.
Rubio menjelaskan bahwa sistem pemerintahan Iran saat ini sangat terpusat. Setiap usulan atau pesan yang dibawa oleh para negosiator Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, harus terlebih dahulu dibahas dalam lingkaran kepemimpinan sebelum mendapatkan persetujuan akhir.
Menurutnya, setiap keputusan strategis pada akhirnya memerlukan arahan dari pemimpin tertinggi. Karena itu, tanggapan resmi Iran terhadap berbagai proposal internasional sering kali membutuhkan waktu antara tiga hingga lima hari.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media