Nasional . 09/06/2026, 20:38 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id – Masalah penumpukan residu plastik yang minim nilai jual kini menemukan titik terang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan inovasi teknologi yang mampu mengubah sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif sejenis solar.
Melalui pemanfaatan mesin pirolisis, setiap satu kilogram (kg) sampah plastik dapat menghasilkan hingga 0,9 liter solar siap pakai.
BRIN menyerahkan fasilitas mutakhir ini kepada Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah yang berlokasi di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengikis persoalan pencemaran lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat.
Periset BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa pirolisis merupakan metode dekomposisi termokimia untuk mengurai material organik atau plastik. Proses ini mengubah plastik menjadi fase gas, cair, dan padat menggunakan sistem pemanasan suhu tinggi antara 250 hingga 350 derajat Celsius dengan kondisi sedikit atau tanpa oksigen.
"Prosesnya kurang lebih selama 7-8 jam untuk mengolah plastik menjadi solar," kata Heru, di Yogyakarta, Selasa.
Ide pembuatan mesin ini berawal dari keprihatinan para peneliti terhadap tingginya volume limbah plastik di wilayah Bantul. Selama ini, para pegiat daur ulang menganggap jenis sampah tersebut sebagai residu yang tidak laku di pasaran. Jika ada yang membeli, harganya sangat murah, yakni hanya berkisar antara Rp100 hingga Rp200 saja per kg.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kurang tertarik untuk mengumpulkan atau mengelolanya. Melihat fenomena ini, BRIN memandang bahan baku plastik dari sudut pandang yang berbeda.
"Sehingga itu tidak menarik bagi para pegiat daur ulang, kita melihat plastik kan asalnya dari minyak bumi, kita kembalikan menjadi minyak bumi," katanya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, BRIN menjalin kolaborasi bersama Pertamina dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul. Sinergi ini melahirkan bantuan satu unit mesin pirolisis untuk KSM Pilah Berkah Imogiri, dengan misi utama menyulap plastik tidak berharga menjadi produk bernilai jual tinggi yang mereka namakan Petasol atau solar alternatif.
"Satu kilogram sampah plastik, itu bisa menghasilkan 0,8-0,9 liter solar," jelasnya.
Meskipun terdengar sederhana, konversi limbah menjadi bahan bakar membutuhkan ketekunan. Sistem kerja alat ini memerlukan waktu pemanasan yang cukup panjang selama 7 sampai 8 jam pada suhu tinggi. Setelah fase pemanasan, cairan minyak mentah hasil pembakaran harus melewati tahap penjernihan serta beberapa rangkaian proses pemurnian lainnya.
"Hingga akhirnya diperoleh solar (Petasol) yang siap digunakan pada mesin kendaraan berbasis solar," kata Heru.
Semua jenis limbah plastik dengan nilai rendah (low value) pada dasarnya bisa masuk ke dalam mesin ini untuk diekstrak menjadi solar. Karakteristik sampah plastik yang berada dalam kondisi kering bahkan akan meningkatkan mutu bahan bakar yang keluar dari mesin penembak suhu tinggi tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media