Nasional . 10/06/2026, 12:53 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi tokoh lingkungan hidup nasional sekaligus Pembina Yayasan KEHATI, Emil Salim, untuk kembali mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang terhadap pembangunan di Indonesia.
Mengusung tema global "Inspired by Nature. For Climate. For Our Future", Emil menilai pola pembangunan yang selama ini diterapkan masih banyak meniru negara-negara lain tanpa mempertimbangkan karakteristik alam Indonesia yang berbeda secara mendasar.
Menurutnya, kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis di kawasan khatulistiwa memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan negara empat musim seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura, maupun Malaysia.
Emil menjelaskan, alam Indonesia merupakan sistem yang terus hidup dan berkembang, sehingga tidak tepat jika diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi untuk kepentingan pembangunan semata.
"Cara mengolah alam itu bukan dengan alam itu sebagai obyek tadi tetapi bagaimana manusia itu tumbuh memanfaatkan alam tanpa merombak fungsi kehidupan alam itu," jelas Emil Salim, Rabu, 10 Juni 2026.
Ia menekankan pentingnya pendekatan interdependensi dalam pembangunan, yakni memahami bahwa manusia dan alam saling bergantung satu sama lain. Karena itu, sambungnya, berbagai sektor pembangunan, mulai dari pertanian hingga industri, perlu mempertimbangkan keberlanjutan fungsi ekosistem dalam setiap kebijakan yang diambil.
Senada dengan pandangan tersebut, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos menyebut, alam sebagai sumber inspirasi sekaligus solusi utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Menurut Riki, Indonesia membutuhkan model pembangunan yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama, bukan sekadar sumber daya yang terus dieksploitasi.
"Krisis iklim yang kita hadapi saat ini merupakan peringatan bahwa pembangunan tidak bisa lagi berjalan dengan mengabaikan batas-batas ekologis," ujar Riki Frindos.
"Keanekaragaman hayati Indonesia adalah aset strategis bangsa yang berperan menjaga ketahanan iklim, pangan, air, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Karena itu, investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem,” lanjutnya.
Emil juga membagikan pengalamannya saat menjabat Menteri Lingkungan Hidup. Ia mengaku banyak memperoleh pemahaman mengenai isu lingkungan melalui interaksi dan pembelajaran bersama berbagai organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang kelautan, kehutanan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Pengalaman tersebut semakin memperkaya perspektifnya setelah berinteraksi dengan sejumlah tokoh dunia yang memiliki perhatian serupa terhadap isu lingkungan. Menurutnya, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan lintas negara menjadi faktor penting dalam mendorong lahirnya berbagai inisiatif global, termasuk pembentukan United Nations Environment Programme (UNEP).
Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim global, Prof. Emil mengingatkan bahwa pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem berpotensi menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap lingkungan hidup.
Ia menegaskan bahwa pembangunan seharusnya mendukung keberlangsungan kehidupan, bukan justru mengarah pada kerusakan alam yang pada akhirnya merugikan manusia sendiri.
Sebagai penutup, Emil menitipkan pesan kepada generasi muda agar menjadikan pemahaman lingkungan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan dan pembangunan bangsa.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media