Ekonomi . 16/06/2026, 21:58 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Pemerintah mulai menyusun berbagai asumsi strategis untuk mendukung penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah energi dan sumber daya mineral (ESDM), mengingat perannya yang sangat penting terhadap penerimaan negara, subsidi energi, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan sejumlah asumsi makro sektor ESDM yang akan menjadi dasar penyusunan RAPBN 2027.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah usulan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang berada pada kisaran 70 hingga 95 dolar Amerika Serikat per barel.
Menurut Bahlil, rentang tersebut masih bersifat dinamis dan akan terus dievaluasi mengikuti perkembangan kondisi global dalam beberapa bulan ke depan.
"Di 2026, kita ketok palu dengan angka 70 dolar AS, tetapi di 2027 kisarannya batas minimum 70 dan maksimalnya di angka 95 dolar AS, sambil kita lihat perkembangan dinamika nanti sampai dengan bulan Agustus," kata Bahlil dalam rapat kerja dengan DPR RI, Senin (15/6/2026).
Usulan rentang ICP yang cukup lebar menunjukkan pemerintah masih berhati-hati dalam membaca arah pergerakan harga minyak dunia.
Ketidakpastian geopolitik global, konflik di sejumlah kawasan, hingga perubahan permintaan energi dunia menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga minyak dalam beberapa bulan mendatang.
Karena itu, pemerintah memilih menggunakan skenario rentang harga yang lebih fleksibel sambil menunggu perkembangan situasi internasional hingga pertengahan tahun.
Bahlil menegaskan bahwa angka final yang akan digunakan dalam RAPBN 2027 masih dapat berubah sesuai perkembangan kondisi pasar energi global.
Selain harga minyak, pemerintah juga memaparkan target lifting minyak dan gas bumi (migas) yang menjadi salah satu indikator penting dalam sektor energi nasional.
Dalam RAPBN 2027, target lifting migas diusulkan berada pada kisaran 1,536 juta hingga 1,592 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD).
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media