fin.co.id – Pasar keuangan Asia membuka awal pekan dengan pergerakan yang kurang menggembirakan. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi terpantau bergerak melemah sebesar 9 poin atau turun 0,05 persen menuju level Rp17.813 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penurunan jika kita membandingkannya dengan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.804 per dolar AS.
Kondisi penguatan mata uang dolar AS pada pagi ini otomatis menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia hingga terperosok ke zona merah. Won Korea Selatan menjadi mata uang yang mengalami pelemahan paling tajam. Tren negatif ini kemudian menjalar ke beberapa mata uang negara tetangga lainnya, termasuk ringgit Malaysia, baht Thailand, yen Jepang, peso Filipina, serta dolar Singapur
Lonjakan Harga Minyak Mentah Brent dan Gagalnya Optimisme Pasar
Faktor utama yang memicu rontoknya mata uang di kawasan Asia pagi ini adalah pergerakan komoditas energi global. Harga minyak mentah jenis Brent kembali melonjak naik sebesar 2,15 persen menuju level US$82,3 per barel. Padahal, harga minyak dunia sempat mendingin dan turun ke rentang US$78,85 hingga US$79,2 per barel.
Kenaikan mendadak ini sangat erat kaitannya dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Sebenarnya, perwakilan Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah melaksanakan negosiasi intensif di Swiss demi mencapai kesepakatan perdamaian serta membuka kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Sayangnya, hawa damai tersebut mendadak sirna.
Ketegangan antarnegara tersebut kembali meningkat ke level yang mengkhawatirkan setelah Presiden AS, Donald Trump, melontarkan ancaman keras. Trump menegaskan bahwa militer AS akan menyerang wilayah Iran apabila kelompok Hezbollah terus meluncurkan serangan ke Israel.
Perkembangan situasi yang memanas ini langsung memangkas sebagian besar optimisme pelaku pasar. Padahal, sentimen pasar sebelumnya sempat membaik akibat adanya progres positif terkait meredanya perselisihan antara AS dan Iran. Ketakutan para investor kini membuat harga minyak dunia kembali merangkak naik.
Pasar Asia Pantau Data Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga Jepang
Selain isu minyak dan geopolitik, para pelaku pasar di Asia juga tengah mengalihkan fokus mereka untuk menanti rilis data inflasi terbaru dari Jepang. Data ekonomi ini menjadi sangat krusial karena bakal menggerakkan arah kebijakan suku bunga dari Bank of Japan (BOJ).
Berdasarkan proyeksi dari Bloomberg Economics, otoritas moneter Jepang diperkirakan akan mengerek suku bunga acuan mereka menjadi 1,25 persen pada Desember 2026 mendatang. Langkah pengetatan ini naik cukup signifikan dari level suku bunga saat ini yang masih bertahan sebesar 1 persen.