fin.co.id - Kabar baik bagi para pengguna BBM nonsubsidi mulai mencuat. PT Pertamina (Persero) tengah mengkaji kemungkinan menurunkan harga Pertamax dan jenis BBM nonsubsidi lainnya secara bertahap mulai awal Juli 2026.
Rencana tersebut muncul setelah harga minyak mentah dunia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir, menyusul meredanya ketegangan geopolitik setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan atau yang akrab disapa Iwan Bule, mengatakan jajaran Dewan Komisaris telah mendorong direksi untuk segera melakukan evaluasi terhadap harga BBM nonsubsidi.
Menurutnya, penyesuaian harga perlu dilakukan agar sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah di pasar internasional.
"Yang pasti kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi manajemen untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak yang di dunia sudah mulai turun," ujar Iwan Bule, Jumat (26/6/2026).
Iwan menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi yang berlaku saat ini sebenarnya masih mengacu pada harga minyak mentah beberapa waktu lalu.
Ketika itu, harga crude oil sempat melonjak hingga rata-rata mencapai sekitar 80 dolar Amerika Serikat per barel akibat meningkatnya konflik di kawasan Teluk.
Namun situasinya kini mulai berubah.
Berdasarkan data The Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini bergerak di kisaran 71 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut menjadi salah satu alasan Pertamina mulai membahas kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
"Kami sedang memformulasikan, mendiskusikan. Yang jelas harga minyak hari ini kan diprosesnya bulan kemarin," kata Iwan.