Menurut Iwan, Pertamina memahami harapan tersebut.
Namun pihaknya tetap harus mengikuti mekanisme penyesuaian harga yang berlaku agar seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.
Harga Minyak Belum Kembali ke Level Sebelum Konflik
Meski telah turun, harga minyak mentah dunia sebenarnya masih berada di atas level sebelum konflik di kawasan Teluk.
Sebelum perang memanas, harga crude oil sempat berada di kisaran 60 dolar AS per barel.
Sementara saat ini harga masih berkisar 71 dolar AS per barel, sehingga ruang penurunan harga BBM juga masih bergantung pada perkembangan pasar energi global.
Apabila tren penurunan harga minyak terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi menjadi semakin besar.
Pembahasan yang tengah dilakukan Pertamina membuka peluang adanya perubahan harga BBM nonsubsidi pada awal Juli 2026.
Meski belum ada keputusan resmi mengenai besaran penurunannya, sinyal yang disampaikan Komisaris Utama Pertamina menunjukkan bahwa perusahaan tengah mengkaji langkah terbaik.
Keputusan akhir nantinya akan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, kondisi stok BBM nasional, serta mekanisme penyesuaian harga yang berlaku.
Bagi masyarakat, kabar ini tentu menjadi angin segar di tengah harapan agar biaya transportasi dan aktivitas sehari-hari dapat lebih ringan apabila harga Pertamax dan BBM nonsubsidi benar-benar mengalami penurunan dalam waktu dekat. (*)