Internasional . 02/07/2026, 23:53 WIB

Gelontorkan Rp17,6 Kuadriliun untuk NATO, Trump Sebut Kontribusi Jumbo AS Tak Sebanding Manfaat

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id — Isu anggaran militer global kembali memanas setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan kritik tajam terhadap Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Trump menilai negaranya telah menggelontorkan uang yang jauh lebih banyak daripada sekutu lainnya, namun AS justru tidak memperoleh keuntungan yang seimbang.

Pernyataan menohok ini ia sampaikan langsung melalui akun media sosial pribadinya pada Kamis, 2 Juli 2026.

"Amerika Serikat menghabiskan dana yang jauh lebih besar daripada negara mana pun untuk NATO guna melindungi mereka, tetapi tanpa memperoleh manfaat apa pun dari hal itu," tulis Trump di platform Truth Social.

Sikap keras Trump ini memicu ruang diskusi baru mengenai keadilan distribusi anggaran pertahanan di antara negara-negara anggota aliansi.

Perbandingan Jomplang Anggaran Belanja Pertahanan NATO

Untuk memperkuat argumennya, Trump menjabarkan data statistik pengeluaran masing-masing negara sepanjang periode tahun 2014 hingga 2025. Angka yang dikeluarkan oleh Washington memang tampak mendominasi secara mutlak.

AS tercatat sudah menyumbang dana fantastis sebesar 999 miliar dolar AS (atau setara dengan Rp17,6 kuadriliun). Nilai ini berbanding terbalik dengan kontribusi negara-negara Eropa lainnya:

  • Inggris mengalokasikan dana sebesar 90,5 miliar dolar AS (sekitar Rp1,6 kuadriliun).
  • Prancis memberikan kontribusi senilai 66,5 billion dolar AS (sekitar Rp1,1 kuadriliun).
  • Italia menyumbang dana pertahanan sebesar 48,8 miliar dolar AS (sekitar Rp877,8 triliun).
  • Polandia menyetorkan dana sebesar 44,3 miliar dolar AS (sekitar Rp796,8 triliun).

Trump menambahkan bahwa negara sekutu penting lainnya, termasuk Jerman, justru mengalokasikan anggaran militer yang nilainya jauh lebih kecil lagi.

Desakan Naikkan Anggaran 5 Persen PDB dan Berkah Industri Senjata AS

Kritik dan desakan bertubi-tubi dari pihak Trump ini akhirnya membuahkan hasil. Negara-negara anggota NATO perlahan mulai meningkatkan anggaran belanja pertahanan domestik mereka. Menariknya, gelombang peningkatan dana ini justru mendatangkan keuntungan finansial bagi Washington, sebab sebagian besar pesanan senjata baru tersebut mengalir langsung kepada produsen persenjataan Amerika Serikat.

Meski begitu, Trump tetap konsisten mengkritik negara-negara Eropa karena ia menganggap sumbangsih mereka belum memadai untuk mendongkrak kemampuan pertahanan kolektif NATO. Alasan inilah yang membuatnya mendesak seluruh anggota aliansi agar menaikkan anggaran militer hingga menyentuh angka 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Tuntutan tersebut direspons pada KTT NATO di Den Haag, Belanda, yang berlangsung tahun 2025 lalu. Dalam pertemuan puncak tersebut, para pemimpin aliansi akhirnya menyepakati target baru, yakni menaikkan belanja pertahanan menjadi 5 persen dari PDB pada tahun 2035 mendatang.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, pembagian porsi alokasi dana akan terbagi menjadi dua sektor utama:

Sebesar 3,5 persen akan mengalir secara khusus untuk belanja pertahanan langsung.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com