Internasional . 02/07/2026, 20:27 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Bahkan, banyak ibu kota di Eropa mengalami tiga hari terpanas bukan hanya sepanjang Juni, tetapi juga sepanjang sejarah pencatatan tahunan. Diperkirakan lebih dari 100 juta penduduk Eropa menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius hanya dalam satu hari.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) yang tidak hanya menghitung suhu udara, tetapi juga memperhitungkan tingkat kelembapan.
Indikator ini dinilai lebih akurat dalam mengukur kemampuan tubuh manusia untuk membuang panas.
Hasilnya menunjukkan sekitar 45 persen kota berpenduduk lebih dari 50 ribu jiwa mengalami kondisi WBGT terburuk sepanjang sejarah pencatatan. Artinya, risiko gangguan kesehatan akibat panas meningkat secara signifikan.
Menurut Keeping, perubahan yang terjadi berlangsung jauh lebih cepat daripada perkiraan banyak ilmuwan sebelumnya.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell, mengatakan bahwa perubahan iklim kini semakin tidak terkendali akibat ketergantungan dunia terhadap batu bara, minyak, dan gas.
Namun demikian, ia menilai solusi sebenarnya sudah tersedia, yakni mempercepat transisi menuju energi bersih yang kini semakin murah dibandingkan bahan bakar fosil, melindungi kawasan hutan, serta memperkuat ketahanan iklim di berbagai negara.
Tim WWA juga membantah anggapan bahwa gelombang panas kali ini dipicu oleh fenomena El Niño.
Melalui analisis berbasis data observasi dan proyeksi cuaca, mereka menyimpulkan bahwa faktor utama yang memperparah suhu ekstrem adalah pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Memang, fenomena heat dome atau kubah panas yang memerangkap udara panas di atas Eropa serta menarik udara hangat dari Gurun Sahara merupakan pola cuaca yang dapat terjadi secara alami pada musim panas.
Namun, tambahan panas akibat perubahan iklim membuat suhu yang dihasilkan jauh lebih ekstrem dibandingkan kondisi normal.
Carolina Pereira Marghidan dari Red Cross Red Crescent Climate Centre mengatakan bahwa setelah gelombang panas mematikan tahun 2003, banyak negara Eropa mulai membangun sistem peringatan dini dan memperkuat strategi mitigasi.
Langkah tersebut terbukti mampu menyelamatkan banyak nyawa. Namun, menurutnya upaya tersebut masih belum cukup untuk menghadapi perubahan iklim yang semakin cepat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media