Ekonomi . 07/07/2026, 19:23 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Di tengah situasi ekonomi dunia yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kondisi perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang stabil. Menurut OJK, ketahanan tersebut ditopang oleh sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan pemerintah.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang berlangsung secara daring, Selasa (7/7/2026).
Friderica menjelaskan, terjaganya stabilitas ekonomi nasional juga didukung oleh pergerakan harga minyak dunia yang kembali mendekati level sebelum terjadinya konflik geopolitik. Kondisi ini dinilai mampu meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
"Indikator perekonomian global di atas ekspektasi pasar, namun mengalami divergensi antara negara di tengah tekanan inflasi yang meningkat," tutur Friderica dalam pemaparannya.
Lebih lanjut, ia menyebut perkembangan situasi geopolitik, khususnya terkait Iran dan Amerika Serikat (AS), menunjukkan penurunan tensi sehingga tekanan terhadap pasar energi global ikut mereda.
"Perkembangan terkini ketegangan geopolitik di kawasan timur-tengah turut mengurangi tekanan di pasar energi global. Kendati demikian, risiko geopolitik masih perlu dicermati mengingat stabilitas kawasan masih rentan terhadap potensi eskalasi baru," ucap Friderica.
Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis Stockbit, harga minyak dunia mengalami pelemahan tipis pada Senin, 6 Juli 2026, setelah negara-negara anggota OPEC+ menyepakati peningkatan target produksi mulai Agustus mendatang.
Data tersebut menunjukkan kontrak minyak mentah Brent turun 24 sen atau 0,33 persen menjadi USD 71,88 per barel pada pukul 00.10 GMT, setelah sebelumnya ditutup menguat 0,45 persen pada perdagangan Jumat. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat tercatat berada di level USD 68,58 per barel, turun 11 sen atau 0,16 persen.
Meski demikian, analis pasar IG Tony Sycamore menilai penurunan harga tersebut lebih bersifat teknis. Menurutnya, dampak konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dari produsen OPEC seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
"Dengan keluarnya UEA dan ketika kuota mungkin masih belum terpenuhi karena produksi masih meningkat setelah konflik - saya tidak yakin itu berarti banyak saat ini," tutur Tony.
Bianca Khairunnnisa/Disway
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media