Ekonomi . 27/07/2026, 17:54 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id — Pergerakan Rupiah kembali berada di zona merah akibat gempuran berbagai tekanan ekonomi global dan domestik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 27 Juli 2026 bergerak melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.963 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
“Potensi kenaikan tetap terbatas karena sentimen pasar masih terikat pada narasi The Fed yang cenderung hawkish,” jelasnya.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September 2026. Adapun pada pertemuan 28-29 Juli 2026, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.
Laju mata uang nasional juga tertahan oleh eskalasi konflik internasional yang mengganggu jalur distribusi barang di kawasan Timur Tengah.
Sentimen lain berasal dari gangguan rantai pasok akibat perang AS dengan Iran dan Houthi Yaman dengan Arab Saudi yang membuat jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang melambat.
Kondisi geopolitik luar negeri tersebut makin berpadu dengan dinamika kepemimpinan di sektor moneter dalam negeri. Dari dalam negeri, sentimen berasal dari mundurnya Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti akan menjalankan tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga gubernur definitif ditetapkan.
Pelemahan ini selaras dengan pergerakan indikator acuan transaksi perbankan nasional. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.973 per dolar AS.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media