Ekonomi . 28/07/2026, 11:16 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.d - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah 61 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp18.070 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.009 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah dipicu sikap hati-hati pelaku pasar yang tengah menunggu arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan gubernur baru.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp18 ribu-Rp18.050 per dolar AS dipengaruhi oleh faktor domestik sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI di bawah Gubernur yang baru,” ucapnya dikutip dari ANTARA di Jakarta, Selasa 28 Juli 2026.
Saat ini, jabatan Gubernur Bank Indonesia untuk sementara diemban Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo.
Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pemberhentian Perry Warjiyo secara hormat. Setelah proses administrasi tersebut selesai, pemerintah akan memasuki tahapan transisi sebelum Presiden mengusulkan calon Gubernur BI definitif kepada DPR RI.
Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, nama calon gubernur akan diajukan Presiden untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI. Apabila memperoleh persetujuan parlemen, calon tersebut kemudian dilantik oleh Presiden sebagai Gubernur BI definitif.
Menurut Rully, gubernur baru nantinya perlu memberikan perhatian pada penguatan kelembagaan Bank Indonesia, khususnya dalam menjalankan kebijakan moneter.
“Gubernur BI yang baru perlu memprioritaskan penguatan kelembagaan/institusi, terutama kebijakan operasional moneter yang mempengaruhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi, di mana seharusnya BI tidak secara langsung membeli obligasi pemerintah di pasar perdana,” ungkap Rully.
Di sisi eksternal, sentimen pasar dinilai relatif kondusif. Indeks dolar AS bergerak stabil, sementara harga minyak dunia mengalami penurunan setelah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Anadolu, Presiden AS Donald Trump memerintahkan penangguhan serangan lanjutan terhadap Iran, mengakhiri operasi militer yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Sementara itu, pemerintah Iran menegaskan belum melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga membantah laporan yang menyebut Teheran telah mengajukan permintaan perundingan dengan Washington. Menurutnya, kemungkinan dialog di masa mendatang akan bergantung pada perubahan sikap pemerintah AS. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media