fin.co.id - Pakar ekonomi Surya Vandiantara menilai hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk atau sangat buruk tidak dapat dijadikan acuan untuk menggambarkan kondisi perekonomian nasional secara riil.
Menurut Surya, survei tersebut hanya mengukur persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi, bukan berdasarkan indikator ekonomi makro yang menjadi tolok ukur kesehatan perekonomian suatu negara.
"Hasil survei SMRC tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kondisi riil perekonomian Indonesia, akan tetapi dari hasil survei SMRC kita dapat menyimpulkan bahwa penilaian masyarakat terhadap keberhasilan pemerintah di bidang ekonomi masih rendah," kata dia dalam keterangan diterima di Jakarta, Kamis 30 Juli 2026.
Surya menjelaskan terdapat perbedaan mendasar antara persepsi publik yang terekam dalam survei dengan kondisi ekonomi yang tercermin dari data resmi. Ia mencontohkan salah satu indikator yang menunjukkan kinerja positif adalah neraca perdagangan Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang satu tahun penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2025, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar 41,05 miliar dolar AS.
"Surplus neraca perdagangan ini melanjutkan tren positif yang dicapai pada pada era pemerintahan sebelumnya di tahun 2023 sebesar 36,93 miliar dolar AS dan tahun 2024 sebesar 31,04 miliar dolar AS," ujar Surya.
Selain neraca perdagangan, ia juga menyoroti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang dinilai tetap menunjukkan tren positif sepanjang 2025.
"BPS mencatatkan pertumbuhan ekonomi kumulatif (cumulative-to-cumulative/c-to-c) tahun 2025 mencapai 5,11 persen. Bertumbuh dari tahun 2024 sebesar 5,03 persen dan tahun 2023 5,05 persen," ucapnya.
Surya juga menyebut cadangan devisa sebagai indikator lain yang memperlihatkan ketahanan ekonomi nasional. Mengacu pada laporan Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS atau meningkat dibandingkan akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS.
"Ketiga indikator fundamental perekonomian ini baik neraca perdagangan, PDB maupun cadangan devisa merupakan indikator utama yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia stabil dan terus bergerak maju," katanya.
Dengan melihat sejumlah indikator tersebut, Surya berpendapat persoalan yang dihadapi bukan terletak pada kondisi ekonomi, melainkan masih kurangnya penyampaian informasi mengenai capaian ekonomi kepada masyarakat.
"Sehingga yang perlu dilakukan bukanlah menganulir hasil survei SMRC ataupun membuat survei tandingan, melainkan lebih proaktif dalam menyampaikan keberhasilan yang sebenarnya sudah dicapai," ucapnya.
Ia menilai kementerian dan lembaga yang membidangi sektor ekonomi belum optimal dalam mengomunikasikan berbagai capaian yang telah diraih. Akibatnya, informasi mengenai perkembangan ekonomi belum sepenuhnya diterima masyarakat sehingga memengaruhi penilaian publik.
"Permasalahan inilah yang akhirnya menyebabkan penilaian masyarakat terhadap ekonomi Indonesia menjadi rendah," kata Surya.