Ekonomi . 03/08/2026, 09:28 WIB

Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Hari Ini, Terdorong Melandainya Harga Minyak Dunia

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana  |  Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id - Pasar valuta asing membuka pekan ini dengan angin segar dari penurunan harga minyak mentah dunia, yang berpotensi menyuntikkan energi positif bagi kurs rupiah. Penurunan harga komoditas energi tersebut terjadi usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana perundingan baru bersama pihak Iran.

Kondisi tersebut tecermin pada pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) pada Senin, 3 Agustus 2026, yang bertahan stabil di kisaran Rp18.048/US$ sekitar pukul 08.17 WIB.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Oktober sempat anjlok hingga 7,3% pada awal perdagangan Asia. Saat pasar Singapura dibuka, koreksi Brent sedikit menyusut menjadi 4,7% ke posisi US $83,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terkikis hingga ke bawah US$81 per barel.

Dari sisi penawaran, negara-negara anggota utama OPEC+ telah menyepakati kenaikan kuota produksi. Kebijakan ini bertujuan memulihkan pasokan minyak yang sempat terhenti akibat pemangkasan sejak 2023.

Meredanya harga energi mendorong penguatan mata uang kawasan Asia. Won Korea Selatan memimpin kenaikan sebesar 0,46%, diikuti dolar Singapura sebesar 0,12%, sementara ringgit Malaysia dan yuan offshore mencatatkan penguatan tipis.

BPS Siap Rilis Data Inflasi dan Neraca Perdagangan

Meski sentimen regional cenderung positif, laju mata uang Garuda harus menghadapi ujian dari dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis indikator neraca perdagangan dan inflasi pada pukul 11.00 WIB.

Para analis memproyeksikan inflasi Juli melambat ke angka 3,16% secara bulanan, turun dari posisi Juni sebesar 3,34%. Stabilnya harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi penopang utama penurunan laju inflasi ini.

Namun, neraca perdagangan diprediksi masih mencatatkan defisit, meskipun nilainya membaik dibanding defisit Mei yang menembus US $1,61 miliar. Konsensus Bloomberg memperkirakan neraca perdagangan Juni membukukan defisit sebesar US$756 juta.

Data transaksi perdagangan luar negeri diperkirakan menunjukkan performa berikut:

  • Impor Juni 2026 diproyeksikan tumbuh 22,3%, hampir sejajar dengan capaian Mei sebesar 22,16%.
  • Ekspor Juni diperkirakan masih terkontraksi 0,4%, membaik dibanding kontraksi Mei yang mencapai 5,73%.

Tingginya laju impor dibanding ekspor berisiko memicu tekanan terhadap rupiah karena melonjaknya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran transaksi luar negeri. Selain itu, belum pulihnya ekspor menandakan permintaan global terhadap produk nasional masih tergolong lemah.

Kondisi tersebut menyebabkan arus masuk dolar dari sektor ekspor cenderung terbatas, sementara pengeluaran valas untuk membiayai impor tetap tinggi. Ketidakseimbangan ini menjadi faktor utama yang membuat nilai tukar rentan terhadap gejolak.

Tantangan Suku Bunga AS dan Evaluasi Fiskal

Tekanan eksternal turut diperberat oleh tingginya suku bunga US Treasury yang bertahan lebih lama. Kondisi ini menjaga daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus mengikis minat investor terhadap obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya, arus modal asing (inflow) berisiko tertahan dan meningkatkan premi risiko domestik.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com