Viral . 05/08/2026, 11:44 WIB
Penulis : Ari Nur Cahyo | Editor : Ari Nur Cahyo
fin.co.id - Praktisi kesehatan sekaligus figur publik, dr. Gia Pratama, memberikan tanggapan tegas menyusul viralnya kasus dugaan komentar bernada negatif dari oknum tenaga kesehatan (nakes) terhadap pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kasus ini menarik perhatian luas setelah pasien yang bersangkutan meninggal dunia.
Dokter Gia memanfaatkan akun media sosial pribadinya di @giapratamamd untuk mengingatkan seluruh rekan sejawatnya di dunia medis agar senantiasa menjaga profesionalisme dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pasien. Ia menekankan bahwa atribut profesi yang melekat pada diri seorang tenaga medis bukan sekadar pakaian kerja biasa.
"Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi," tulis dr. Gia dalam unggahannya.
Ia juga menambahkan pesan mendalam mengenai esensi pelayanan kesehatan. Menurutnya, ketika seragam tersebut dikenakan, setiap tenaga medis wajib mengingat bahwa segala bentuk kelelahan, kekecewaan, kemarahan, maupun tekanan kerja harus diredam demi mengutamakan keselamatan serta kenyamanan pasien.
"Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional, karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu tidak enak," sambungnya.
Kontroversi ini bermula dari sebuah unggahan yang dibagikan oleh almarhum Yurizal Tri Chaerawan melalui platform media sosial Threads pada tanggal 22 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, Yurizal menceritakan pengalaman kurang menyenangkan saat harus menunggu selama delapan jam demi mendapatkan kamar rawat inap di rumah sakit.
"Delapan jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill rumah sakitnya, soalnya gue pakai BPJS," tulis Yurizal kala itu.
Keluhan tersebut dengan cepat memicu perbincangan hangat serta beragam respons dari warganet. Namun, situasi berubah menjadi polemik ketika muncul tangkapan layar berisi komentar pedas dari akun yang kemudian diidentifikasikan milik dr. Elda Putri Rahardini.
Komentar tersebut dinilai merendahkan kapasitas berpikir Yurizal sebagai pasien. Pernyataan itu langsung menuai kecaman keras dari publik maya karena dianggap mencederai nilai empati yang seharusnya dijunjung tinggi oleh para pelayan kesehatan terhadap masyarakat yang sedang menderita kesakitan.
Tekanan publik semakin besar setelah tersiar kabar duka bahwa almarhum Yurizal Tri Chaerawan telah meninggal dunia pada tanggal 31 Juli 2026. Kepergian almarhum memicu gelombang kemarahan sekaligus diskusi mendalam di tengah masyarakat mengenai standar etika bermedia sosial bagi tenaga kesehatan serta mutu layanan bagi pengguna BPJS.
Menanggapi polemik yang memanas, beberapa tenaga kesehatan yang sempat meninggalkan komentar pada unggahan asli akhirnya memilih untuk mengambil langkah kooperatif. Mereka menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun media sosial masing-masing.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media