Internasional

Ketua Parlemen Iran: Cukup Sudah 'Diplomasi Sandiwara', AS Harus Tepati Komitmen!

Ketua Parlemen Iran mengecam diplomasi AS sebagai sandiwara dan mendesak Presiden Donald Trump memenuhi komitmennya.

Ketua Parlemen Iran: Cukup Sudah 'Diplomasi Sandiwara', AS Harus Tepati Komitmen!
Iran menegaskan belum ada negosiasi langsung dengan AS.

fin.co.id - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menyebut pendekatan diplomasi Washington sebagai "diplomasi sandiwara". Menurutnya, pola komunikasi yang dilakukan Presiden AS Donald Trump justru memperlihatkan inkonsistensi dalam menangani hubungan dengan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf melalui platform X pada Jumat, 7 Agustus 2026, di tengah masih terhentinya proses perundingan antara Iran dan AS mengenai berbagai isu strategis, termasuk keamanan di Selat Hormuz.

Ghalibaf Nilai Diplomasi AS Penuh Intimidasi dan Janji Kosong

Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai ketua tim negosiator Iran dalam pembicaraan dengan AS, menilai kebiasaan Donald Trump mengumumkan rencana serangan kemudian membatalkannya sebagai bentuk "diplomasi sandiwara".

"Serangan besar-besaran akan datang, tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi. Itulah diplomasi sandiwara yang berulang-ulang," kata Ghalibaf.

Ia juga menilai penggunaan intimidasi, janji yang tidak ditepati, serta penyebaran berita palsu menunjukkan kegagalan strategi yang dijalankan Washington.

"Akui saja faktanya dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak perlu sandiwara lagi," tambahnya.

Trump Sempat Klaim Negosiasi Selat Hormuz Hampir Rampung

Sebelumnya, pada Kamis (6/8), Donald Trump mengatakan dirinya terlibat dalam proses negosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa kesepakatan antara kedua negara akan segera tercapai dalam waktu dekat.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, hubungan kedua negara justru diwarnai aksi saling serang. AS menargetkan fasilitas militer milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), sedangkan Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk, terutama Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Eskalasi tersebut terjadi meskipun kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu dan memulai perundingan menuju kesepakatan final.

Perundingan Terhenti, Trump Batalkan Ancaman Serangan

Proses negosiasi akhirnya terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi pasokan energi dan perdagangan dunia.

Pekan lalu, Trump mengancam akan menyerang Iran "dengan sangat keras". Ia juga memperingatkan bahwa AS dapat menargetkan fasilitas energi, jembatan, dan pembangkit listrik di Iran.

Namun, Trump kemudian menyatakan rencana serangan tersebut dibatalkan setelah Iran disebut bersedia kembali ke meja perundingan. Menurut sejumlah media AS, menipisnya persediaan rudal pencegat juga menjadi salah satu faktor yang mendorong Trump kembali menunda rencana serangan terhadap Iran.

Berita Terkait