Folklor Betawi Diolah Jadi Fiksi, Cara Gen Z Kenali Warisan Budaya
Warisan budaya Betawi tidak harus berhenti sebagai cerita dari masa lalu.
Ia menilai keterhubungan antara cerita dan kehidupan pembaca menjadi salah satu faktor penting untuk menarik minat generasi muda.
“Biasanya orang tertarik membaca karena merasa relate, merasa terhubung dengan cerita tersebut,” kata Sasti.
Menurutnya, perkembangan media sosial yang menawarkan konten visual dan audio secara cepat menjadi tantangan tersendiri bagi dunia sastra. Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya diajak membaca karya sastra, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk berdiskusi, menulis, dan mengembangkan cerita sesuai dengan karakter zaman mereka.
“Tidak kenal, tidak sayang. Makanya salah satu forum seperti ini adalah mengenalkan kepada mereka. Semakin banyak pemaparan, saya pikir akan membuat mereka tertarik dengan sendirinya,” tuturnya.
Baca Juga
Diharapkan Lahir Penulis Betawi Baru
Ketua Perkumpulan Betawi Kita Fadjriah Nurdiarsih mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap masih minimnya pengetahuan generasi muda mengenai cerita serta penulis Betawi.
Pelatihan itu diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali kekayaan sastra Betawi sekaligus membuka peluang munculnya penulis-penulis baru.
Perempuan yang akrab disapa Mpok Iyah tersebut berharap karya yang lahir dari pelatihan tidak berhenti setelah acara selesai. Tulisan peserta diharapkan dapat terus dikembangkan, diterbitkan dalam bentuk buku, serta menjadi bagian dari perkembangan ekosistem sastra Betawi.
Dengan cara tersebut, budaya Betawi tidak hanya diposisikan sebagai peninggalan masa lalu. Cerita-cerita lama dapat kembali hidup melalui cerpen, pertunjukan teater, film pendek, maupun bentuk kreativitas lain yang lebih dekat dengan anak muda.
“Sebenarnya banyak pihak yang harus terlibat jika kita mau menciptakan lebih banyak sastrawan Betawi ataupun mengenalkan sastra Betawi. Saat ini, penulis baru hampir tidak ada. Makanya harus ada langkah serius. Bahkan, urusan sastra Indonesia saja diatur oleh setingkat Kementerian,” ujarnya.
Baca Juga
Fadjriah yang baru menyelesaikan tugasnya di Dewan Kesenian Jakarta juga berharap DKI Jakarta segera memiliki kantor bahasa atau balai bahasa.
“Dengan demikian, urusan sastra dan bahasa Betawi ini bisa lebih terarah dan dapat terus dilestarikan,” pungkasnya.
Sastra Lisan Jadi Penjaga Ingatan
Sementara itu, Yahya Andi Saputra mengajak peserta memahami pentingnya sastra lisan sebagai bagian dari warisan budaya. Tradisi tersebut berkembang melalui tuturan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Beragam cerita, mitos, petuah, nilai budaya, serta kearifan lokal di dalam sastra lisan menjadi bagian dari rekaman perjalanan kehidupan masyarakat.