Nasional . 13/08/2026, 18:28 WIB

Habitat Menyusut, Gajah Sumatera Terancam Kehilangan Rumah

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Selama ini perburuan gading kerap dipandang sebagai ancaman utama bagi kelangsungan hidup gajah. Namun, kondisi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) menunjukkan persoalan yang lebih mendasar, yakni terus menyusutnya habitat alami. Data Daftar Merah IUCN mencatat lebih dari 69 persen habitat potensial gajah sumatra telah hilang dalam kurun sekitar 25 tahun terakhir. Kondisi tersebut menempatkan Sumatera sebagai salah satu wilayah di Asia dengan laju kehilangan habitat gajah yang tinggi.

Momentum Hari Gajah Sedunia menjadi pengingat bahwa persoalan konservasi gajah perlu dilihat dari akar masalahnya. Meningkatnya konflik antara manusia dan gajah bukan semata-mata menunjukkan satwa tersebut semakin sering masuk ke wilayah manusia, tetapi juga menjadi tanda bahwa kemampuan hutan Sumatra dalam menyediakan ruang hidup bagi satwa liar semakin tergerus.

Kematian induk dan anak gajah di Bentang Alam Seblat pada tahun ini menjadi salah satu gambaran serius mengenai tekanan terhadap habitat. Sejumlah jalur jelajah gajah kini terputus akibat perubahan fungsi lahan, pembangunan infrastruktur, hingga fragmentasi kawasan hutan. Akibatnya, gajah semakin sering bergerak menuju perkebunan maupun permukiman warga.

"Gajah tidak pernah memilih hidup berdampingan dengan manusia. Mereka hanya terus berjalan mengikuti jalur jelajah yang telah digunakan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika jalur itu berubah menjadi kebun, jalan, atau permukiman, maka yang sesungguhnya terjadi adalah manusia dan pembangunan telah memasuki ruang hidup gajah," kata Direktur Program Tropical Forest Conservation Action Sumatra (TFCA Sumatera) Yayasan KEHATI, Samedi dikutip dalam keterangan, Kamis, 13 Agustus 2026.

Sebagai umbrella species, keberadaan Gajah Sumatra menjadi salah satu indikator penting kesehatan sebuah bentang alam. Satwa ini membutuhkan hutan yang luas, utuh, dan memiliki keterhubungan antarkawasan untuk memenuhi kebutuhan pakan, air, sekaligus berkembang biak.

Terjaganya habitat gajah secara tidak langsung juga memberikan perlindungan bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa lain yang hidup dalam ekosistem tersebut. Gajah bahkan memiliki fungsi ekologis penting sebagai ecosystem engineer.

Aktivitas gajah di dalam hutan membantu penyebaran biji tanaman, menciptakan jalur alami, serta mendukung regenerasi vegetasi. Karena itu, berkurangnya populasi gajah bukan hanya persoalan hilangnya satu spesies, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi ekologis hutan tropis.

Populasi gajah liar di Sumatra saat ini diperkirakan hanya sekitar 1.200 individu. Satwa tersebut berstatus critically endangered atau kritis dalam Daftar Merah IUCN setelah populasinya mengalami penurunan sedikitnya 50 persen dalam satu generasi.

Dengan kondisi tersebut, penanganan konflik manusia-gajah tidak cukup hanya dilakukan melalui patroli, penggiringan satwa, maupun pemasangan pagar pembatas. Berbagai langkah tersebut memang diperlukan untuk merespons konflik dalam jangka pendek, tetapi tidak akan menyentuh persoalan utama jika kehilangan habitat dan terputusnya koridor ekologis tidak segera dibenahi.

Upaya konservasi kini diarahkan pada perlindungan kawasan hutan prioritas, pemulihan habitat, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penerapan tata kelola lanskap yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi juga dikembangkan untuk mendukung perlindungan populasi gajah di alam.

Sejumlah pendekatan yang dilakukan antara lain pemetaan genetik, pengembangan sistem peringatan dini konflik, pemasangan power fencing, pembangunan parit penghalang, hingga penguatan proses penegakan hukum.

Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempertahankan populasi Gajah Sumatra, tetapi juga menjaga fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat. Hutan berperan penting sebagai sumber air sekaligus penyimpan karbon dalam menghadapi perubahan iklim.

“Hari Gajah Sedunia 2026 mengingatkan bahwa masa depan Gajah Sumatra tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menghentikan perburuan, tetapi juga oleh keberanian untuk menjaga hutan tetap utuh. Ketika hutan hilang, gajah kehilangan rumahnya. Dan ketika gajah kehilangan rumahnya, sesungguhnya kita sedang kehilangan salah satu penyangga terpenting bagi keberlanjutan bentang alam Sumatra,” tutup Samedi.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com