Nasional . 18/08/2026, 11:38 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
“Jadi, bahwa keracunan ini bukan hanya misalnya dicek organoleptik tadi di bau, di rasa, dicicipi, ya. Sudah dibau nggak ada masalah, dicicipi juga nggak ada persoalan, akhirnya dikonsumsi. Jadi, ini sedang kami pertimbangkan untuk kemudian di setiap dapur itu nanti kita lakukan test kit," jelasnya, dalam upacara penurunan Bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).
Menurut Sudaryono, test kit nantinya digunakan untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat berbahaya dalam makanan. Pemeriksaan tersebut, antara lain, ditujukan untuk mengetahui keberadaan arsen serta mendeteksi kondisi makanan yang sudah basi.
“Dites, diberi chemical untuk ngecek apakah ada arsen, ada basi, ada apa,” tambahnya.
Sudaryono mengatakan gagasan penggunaan test kit tersebut merupakan salah satu evaluasi BGN setelah melihat praktik yang diterapkan sejumlah SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri.
"Jadi, kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari, ya. Dari Polri itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan," kata Sudaryono.
Meski demikian, Sudaryono menegaskan bahwa munculnya kasus keracunan tidak berarti seluruh operasional SPPG bermasalah. Dari sekitar 27 ribu dapur yang saat ini beroperasi, dia menyebut sebagian besar telah menjalankan tugas dengan baik. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media