Politik . 18/08/2026, 15:45 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Momen Presiden Prabowo Subianto duduk bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi perhatian publik.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai, kebersamaan ketiganya menarik dilihat dari perspektif komunikasi politik. Menurutnya, interaksi Prabowo dan Jokowi dalam momen tersebut terlihat cair tanpa menunjukkan adanya jarak yang mencolok.
“Kalau melihat momennya, tidak terlihat adanya jarak yang mencolok antara Prabowo dan Jokowi. Mereka bisa berbincang dan menikmati acara bersama. Tetapi tentu satu momen tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan hubungan politik keduanya,” kata Arifki dikutip dari keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia mengingatkan, hubungan Prabowo dan Jokowi memiliki perjalanan politik yang panjang. Keduanya pernah berhadapan dalam Pilpres 2014 dan 2019 sebelum akhirnya berada dalam satu barisan politik.
“Ini menunjukkan bahwa hubungan politik bisa berubah mengikuti dinamika dan kepentingan yang berkembang. Rivalitas elektoral tidak selalu berarti hubungan personal atau politik harus terus berseberangan,” katanya.
Menurut Arifki, absennya Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam momentum tersebut juga tidak perlu dimaknai sebagai pertarungan simbolik. Namun, secara visual, keberadaan Prabowo, Jokowi, dan Gibran dalam satu frame memang menjadi sorotan tersendiri.
“Dalam komunikasi politik, sebuah frame bisa membentuk persepsi. Tetapi persepsi itu tetap perlu dibaca bersama konteks yang lebih luas,” ujarnya.
Posisi Prabowo yang berada di tengah Jokowi dan Gibran juga dinilai memiliki simbol tersendiri. Ketiganya merepresentasikan tiga posisi penting, yakni Jokowi sebagai mantan presiden, Prabowo sebagai presiden saat ini, dan Gibran sebagai wakil presiden.
“Satu frame ini mempertemukan tiga posisi politik dalam satu momentum. Apakah itu memiliki konsekuensi politik lebih jauh, tentu masih terlalu dini untuk disimpulkan,” kata Arifki.
Belum Bisa Dikaitkan dengan Pilpres 2029
Arifki meminta publik tidak terburu-buru menghubungkan momen tersebut dengan kemungkinan konfigurasi politik pada Pilpres 2029.
“Kita masih terlalu jauh kalau menjadikan satu momen sebagai indikasi koalisi atau pasangan politik 2029. Yang bisa kita katakan saat ini adalah hubungan komunikasi antara Jokowi dan Prabowo terlihat tetap cair,” ujarnya.
Ia menilai dinamika politik tidak selalu dapat dibaca secara hitam-putih. Hubungan antarelite bisa tetap baik meskipun memiliki kepentingan politik yang berbeda.
Karena itu, menurut Arifki, publik perlu melihat perkembangan politik secara lebih utuh dan tidak menjadikan satu peristiwa sebagai dasar untuk menarik kesimpulan besar.
“Karena itu, saya melihat momen ini sebagai kode komunikasi yang baik, bukan kesimpulan politik. Apakah kedekatan tersebut akan berlanjut dan memiliki implikasi terhadap konfigurasi politik ke depan, tentu akan terlihat dari perkembangan politik berikutnya. Untuk saat ini, publik cukup membaca apa yang terlihat tanpa perlu menarik kesimpulan terlalu jauh,” pungkasnya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media