Selat Hormuz Tetap Ditutup! Iran Pasang Syarat Keras untuk AS
Iran menegaskan Selat Hormuz tetap ditutup sampai AS memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman, termasuk pencabutan blokade dan sanksi minyak.
fin.co.id - Iran kembali menegaskan sikapnya terkait akses pelayaran di Selat Hormuz. Teheran menyatakan jalur strategis tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman antara kedua negara.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan pernyataan itu dalam sidang parlemen pada Selasa. Menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Teheran akan menggunakan jalur diplomatik maupun militer agar Washington memahami konsekuensi dari kebijakannya.
"Saya tegaskan: sampai AS memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman tersebut — termasuk mencabut blokade, melepas aset yang dibekukan, mencabut sanksi minyak, mengakhiri ancaman dan operasi militer di semua lini, serta melaksanakan ketentuan lain yang disepakati dalam nota tersebut — Selat itu tidak akan dibuka kembali," ujarnya.
Iran Pasang Sejumlah Syarat untuk Pembukaan Selat Hormuz
Qalibaf yang juga menjadi ketua tim negosiasi Iran dalam pembicaraan dengan AS, mengatakan Teheran mengedepankan apa yang ia sebut sebagai "kekuatan logika dan logika kekuatan". Pendekatan tersebut, menurut dia, dilakukan melalui koordinasi antara bidang diplomatik dan militer.
Baca Juga
Iran menilai pelaksanaan sejumlah ketentuan dalam nota kesepahaman menjadi bagian penting sebelum Selat Hormuz kembali dibuka. Qalibaf menyebut pencabutan blokade AS dan gencatan senjata sebagai bagian dari periode waktu yang telah ditetapkan dalam nota tersebut.
Menurut Qalibaf, periode waktu yang tercantum dalam kesepakatan justru membantu Iran memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus membangun kembali kemampuan pertahanannya. Karena itu, Teheran tetap menuntut pelaksanaan komitmen yang telah disepakati sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait Selat Hormuz.
"Republik Islam Iran siap, secara proporsional dengan tindakan dan agresi musuh, untuk memberikan kekalahan yang jauh lebih telak kepada mereka," tambah Qalibaf.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran masih menempatkan pelaksanaan nota kesepahaman sebagai syarat utama dalam pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. Teheran juga menegaskan kesiapan menggunakan pendekatan diplomatik dan militer dalam menghadapi perkembangan hubungan dengan Washington.
Nota Kesepahaman Iran-AS Berujung Kebuntuan
Baca Juga
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut mengakhiri permusuhan sekaligus membuka jendela waktu selama 60 hari untuk menjalankan negosiasi menuju kesepakatan akhir.
Namun, proses pembicaraan kemudian mengalami kebuntuan. Perselisihan muncul terkait pelaksanaan nota kesepahaman serta pengaturan navigasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur penting bagi ekspor minyak dan gas global. Karena itu, perselisihan mengenai akses dan navigasi di kawasan tersebut memiliki kaitan dengan jalur perdagangan energi internasional.
Iran kini menilai AS masih memiliki sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi berdasarkan nota kesepahaman. Kewajiban yang disebut Qalibaf mencakup pencabutan blokade, pelepasan aset yang dibekukan, pencabutan sanksi minyak, serta penghentian ancaman dan operasi militer di semua lini.
Dengan tuntutan tersebut, posisi Teheran terhadap pembukaan Selat Hormuz masih tetap tegas. Iran menyatakan jalur itu tidak akan dibuka kembali sampai Washington menjalankan komitmen yang telah disepakati.