Internasional

Warning Iran untuk AS: Serangan Nuklir Akan Dibalas Nuklir!

Anggota parlemen Iran memperingatkan AS bahwa Teheran akan memberi balasan setimpal jika Washington menggunakan senjata nuklir.

Warning Iran untuk AS: Serangan Nuklir Akan Dibalas Nuklir!
Anggota parlemen Iran memperingatkan AS bahwa Teheran akan memberi balasan setimpal.

fin.co.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah anggota parlemen Iran memperingatkan Washington mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir. Teheran menyatakan akan memberikan balasan setimpal apabila AS menggunakan senjata tersebut terhadap Iran.

Pernyataan itu disampaikan Fada Hossein Maleki, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, dalam wawancara dengan kantor berita Iran, Khabar Online. Media setempat melaporkan pernyataan tersebut pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Ketika mendapat pertanyaan mengenai kemungkinan AS melancarkan serangan nuklir terhadap Iran, Maleki mengatakan dirinya tidak menutup kemungkinan adanya tindakan gegabah dari Presiden AS Donald Trump. Namun, ia menilai Trump tidak akan berani mengambil langkah tersebut karena dampaknya dapat menyeret dunia ke dalam perang yang berbahaya.

"Saya tidak menutup kemungkinan adanya tindakan gegabah oleh (Presiden AS Donald) Trump, namun saya rasa dia tidak akan berani melakukan hal tersebut, karena tindakan semacam itu dapat menjerumuskan dunia ke dalam perang yang berbahaya."

Maleki kemudian menegaskan bahwa Iran akan memberikan respons apabila AS benar-benar menggunakan senjata nuklir. Ia menyebut balasan Iran akan menyesuaikan dengan jenis senjata yang digunakan terhadap negaranya.

"Jika tindakan semacam itu dilakukan, Republik Islam Iran juga akan memberikan balasan, dan reaksinya akan sepadan dengan jenis senjata yang digunakan terhadap Iran," tambahnya.

Iran Tegaskan Akan Merespons Setiap Serangan

Saat mendapat pertanyaan lebih lanjut apakah pernyataannya berarti Iran akan menggunakan senjata nuklir jika AS menyerang dengan senjata tersebut, Maleki memberikan jawaban yang lebih umum. Ia mengatakan Iran akan merespons apa pun jenis senjata yang digunakan AS.

"Apa pun yang digunakan AS, Iran akan menanggapinya."

Maleki tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Iran memiliki senjata nuklir. Namun, anggota parlemen tersebut kembali memperingatkan Washington agar tidak melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Teheran.

Menurut Maleki, Iran memiliki berbagai opsi yang dapat digunakan untuk merespons tindakan AS. Ia juga memperingatkan bahwa setiap langkah Washington dapat memicu respons Iran pada tingkat yang sama atau bahkan lebih tinggi.

"Banyak senjata dan kemampuan militer Iran yang belum diungkap ke publik," ujar Maleki, seraya berargumen bahwa Teheran telah beralih dari sikap defensif menuju apa yang ia gambarkan sebagai "pencegahan aktif dan ofensif."

Pernyataan tersebut menunjukkan sikap keras Teheran di tengah ketegangan yang masih berlangsung dengan Washington. Iran menegaskan bahwa kemampuan militernya tidak seluruhnya diketahui publik dan dapat menjadi bagian dari respons jika AS kembali mengambil tindakan militer.

Perundingan Iran-AS Masih Mengalami Kebuntuan

Selain memperingatkan AS mengenai kemungkinan konflik militer, Maleki turut membahas pembicaraan antara Teheran dan Washington yang saat ini mengalami kebuntuan. Ia menuduh Trump gagal memenuhi komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman antara kedua pihak.

Maleki menyatakan Iran tidak akan kembali ke meja perundingan sebelum Washington memenuhi komitmen sebelumnya. Menurut dia, sejumlah persoalan, termasuk isu Selat Hormuz, juga tidak akan terselesaikan jika AS tidak menjalankan kesepakatan tersebut.

Sementara itu, Maleki menjelaskan bahwa pembicaraan Iran dengan Oman merupakan jalur bilateral yang berbeda. Ia menambahkan bahwa Teheran menolak keterlibatan AS dalam pembicaraan tersebut.

Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni melalui mediasi Pakistan. Kesepakatan tersebut bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara sekaligus membuka jalan menuju negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir.

Namun, pembicaraan kemudian mengalami kebuntuan akibat perselisihan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman. Persoalan tersebut juga mencakup isu yang berkaitan dengan Selat Hormuz.

Ketegangan terbaru itu muncul setelah permusuhan berlangsung selama berbulan-bulan. AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, kemudian Teheran melakukan pembalasan terhadap target serta aset AS dan Israel di berbagai wilayah kawasan tersebut.

Berita Terkait