10 Ribu Bus Elektrik Ditargetkan Mengaspal di Jakarta pada 2030, Pramono Ungkap Strateginya
Pramono menargetkan 10.000 bus elektrik beroperasi di Jakarta pada 2030 untuk menekan emisi dan polusi sekaligus menghemat biaya operasional.
fin.co.id - Langkah menyiapkan transportasi ramah lingkungan terus dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menekan emisi dan polusi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menargetkan lebih dari 10.000 bus elektrik beroperasi di Jakarta pada 2030.
Target tersebut mencakup pengembangan transportasi berbasis energi yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, jumlah bus elektrik yang beroperasi di Jakarta masih sekitar 500 unit.
“Di Jakarta, saya menargetkan di tahun 2030, yang sekarang ini pada saat saya bicara, ini kurang lebih 500 bus elektrik, saya menargetkan di 2030 adalah 10.000 lebih bus elektrik,” ungkap Pramono di kawasan Jakarta Selatan, Kamis, 20 Agustus 2026.
Target 10.000 Bus Elektrik pada 2030
Pramono mengatakan pemerintah tidak hanya mengandalkan bus elektrik untuk mencapai target transportasi rendah emisi. Pengembangan armada juga mencakup bus berbasis hidrogen dan bus hibrida.
Baca Juga
Dengan kombinasi berbagai teknologi tersebut, Pramono berharap transportasi umum dapat mengambil peran lebih besar dalam upaya menekan polusi di Ibu Kota. Pemerintah DKI Jakarta juga membuka ruang bagi berbagai pihak yang ingin ikut berkontribusi dalam pengurangan emisi.
“Supaya ini memberikan ruang, memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin menurunkan emisi di Jakarta itu bisa bersama-sama dengan Pemerintah DKI Jakarta,” tutur Pramono.
Target peningkatan jumlah bus ramah lingkungan tersebut menjadi bagian dari upaya Jakarta memperluas penggunaan transportasi yang menghasilkan emisi lebih rendah. Pemerintah berharap keberadaan armada tersebut dapat memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan di Jakarta.
Bus Listrik Bisa Hemat Subsidi BBM
Selain membantu mengurangi emisi, penggunaan bus listrik juga memiliki potensi penghematan dari sisi subsidi bahan bakar. TransJakarta sebelumnya menyebut satu unit bus listrik berpotensi menghemat subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah hingga Rp302 juta per tahun.
Baca Juga
Potensi penghematan tersebut tidak hanya berasal dari selisih penggunaan bahan bakar. Perhitungan juga mempertimbangkan sejumlah aspek lain selama bus menjalankan operasionalnya.
Jika seluruh aspek tersebut diperhitungkan, penghematan biaya selama masa operasional 5,5 tahun untuk satu unit bus dapat mencapai Rp3,9 miliar. Nilai penghematan tersebut setara dengan harga satu unit bus listrik berukuran 12 meter.
Efisiensi Operasional Jadi Pertimbangan
Perhitungan penghematan tersebut menggunakan sejumlah komponen sebagai dasar. Salah satunya yakni selisih harga solar subsidi dengan harga BBM komersial.
Selain itu, TransJakarta juga memperhitungkan efisiensi operasional bus listrik dibandingkan bus berbahan bakar minyak atau internal combustion engine (ICE). Faktor tersebut turut memengaruhi besarnya potensi penghematan selama masa penggunaan bus.