Sosok Ahmad Zaki Ali, Relawan Kemanusiaan yang Meninggal Saat Bantu Korban Gempa NTT
Ahmad Zaki Ali, pendiri Yayasan Gerak Bareng, meninggal dunia ketika menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dedikasi Ahmad Zaki Ali di bidang kemanusiaan telah dilakukan di berbagai daerah, baik di dalam maupun luar negeri.
Pada 2025, misalnya, Ahmad bersama Gerak Bareng menyalurkan bantuan untuk masyarakat Gaza, Palestina, yang berada di Camp pengungsian Suknah, Provinsi Zarqoh, serta Mahatoh, Provinsi Amman, Jordania.
Bantuan yang disalurkan antara lain sembako dan paket makanan siap santap. Selain itu, terdapat bantuan berupa selimut, pakaian hangat, layanan psikososial, serta air bersih.
Pada tahun yang sama, Ahmad dan Gerak Bareng juga menyalurkan zakat dan infak kepada masyarakat di wilayah Indonesia Timur pada pekan terakhir Ramadan. Program tersebut menyasar para dai, mualaf, serta masyarakat di daerah pedalaman, termasuk di Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.
Baca Juga
Kegiatan sosial lainnya dilakukan untuk membantu warga terdampak longsor di Sukabumi. Yayasan Gerak Bareng menggagas pembangunan pipanisasi darurat sepanjang 3,5 kilometer untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Sukajadi, Kecamatan Cimanggu.
Program tersebut melibatkan lebih dari 100 relawan, aparatur desa, dan masyarakat setempat. Dalam kegiatan itu, Ahmad Zaki Ali disebut sebagai Founder Koordinator Gerak Bareng.
Enam Hari Berada di Lokasi Gempa NTT
Misi kemanusiaan Ahmad berlanjut setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026.
Sehari setelah gempa, tepatnya Minggu, 16 Agustus 2026, Ahmad bersama sejumlah relawan berangkat ke NTT untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Pria yang akrab disapa Bang Jek tersebut juga aktif membagikan aktivitas kemanusiaannya melalui akun Instagram pribadi @ahmadzaki_ali.
Baca Juga
"Bismillah, berharap keridhaan Allah, semoga hadirnya kita memberi manfaat kepada masyarakat," tulis Zaki dalam unggahan Instagram pada 16 Agustus 2026.
Selama berada di NTT, Ahmad dan para relawan menyalurkan bantuan kepada ratusan keluarga yang terdampak gempa.
Ironisnya, pada Jumat, 21 Agustus 2026, atau enam hari setelah tiba di NTT, Ahmad masih sempat membagikan perkembangan misi kemanusiaannya sebelum akhirnya meninggal dunia.
"Alhamdulillah, sekarang Jumat tanggal 21 Agustus 2026, saya sudah enam hari berada di NTT, dan alhamdulillah sebagian besar amanah kawan-kawan baik telah tersampaikan, tersalurkan ke ratusan keluarga yang terdampak gempa," ucapnya melalui akun Instagramnya, Jumat 21 Agustus 2026.
"Kondisi saat ini masih mengkhawatirkan, ditambah gempa susulan yang terjadi," lanjutnya.