Megapolitan . 22/08/2026, 15:19 WIB

Warga Manggarai Tolak Cap “Kampung Tawuran”, Minta Lokasi Kejadian Tak Asal Disebut

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Warga Manggarai, Jakarta Selatan, meminta kawasan mereka tidak lagi dikaitkan secara otomatis dengan aksi tawuran yang terjadi di sekitar wilayah tersebut. Mereka menilai penyebutan lokasi dalam pemberitaan harus sesuai dengan fakta di lapangan agar tidak memunculkan stigma terhadap masyarakat yang sebenarnya tidak terlibat.

Permintaan itu kembali disampaikan setelah tawuran antarremaja terjadi pada Jumat, 21 Agustus 2026. Peristiwa tersebut berdampak pada perjalanan KRL relasi Jakarta-Bogor yang sempat terhenti.

Sejumlah pemberitaan menyebut peristiwa tersebut terjadi di Manggarai. Namun, warga setempat menyatakan lokasi kejadian berada di wilayah Bukit Duri, bukan di kawasan permukiman Manggarai.

Tokoh masyarakat sekaligus Ketua RT 011/RW 04 Kelurahan Manggarai, Bayu Andriyanto, mengatakan kekeliruan penyebutan lokasi dapat berdampak panjang terhadap citra masyarakat.

“Jangan sampai karena pemberitaan yang tidak tepat, Manggarai terus mendapatkan cap sebagai kampung tawuran. Di sini banyak warga yang bekerja, anak-anak sekolah, pedagang, dan masyarakat yang setiap hari menjalankan aktivitasnya dengan baik,” ujar Bayu, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Menurut Bayu, stigma terhadap suatu wilayah bukan sekadar persoalan nama. Citra negatif yang terus melekat dapat memengaruhi cara masyarakat dari luar memandang warga Manggarai, termasuk ketika mereka mencari pekerjaan maupun mengembangkan peluang ekonomi.

“Jangan sampai anak-anak Manggarai ke depan sulit mendapatkan peluang kerja karena Manggarai selalu diberikan image negatif. Mereka jangan sampai menanggung akibat dari stigma yang muncul karena pemberitaan atau persepsi yang tidak tepat,” katanya.

Warga Akui Ada Sejarah Tawuran

Tokoh pemuda sekaligus Ketua RT 04/RW 12 Kelurahan Manggarai, Khoirur Rozikin alias Iyung, mengatakan masyarakat tidak menutup mata terhadap sejarah tawuran di sejumlah titik kawasan Manggarai.

Namun, ia menilai keberadaan sejarah tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menyematkan label tawuran kepada seluruh masyarakat Manggarai setiap kali terjadi bentrokan di sekitar kawasan tersebut.

“Kalau bicara tawuran Manggarai, dari dulu memang ada titik-titik tertentu. Tetapi jangan kemudian setiap tawuran yang terjadi di sekitar Manggarai langsung disebut tawuran Manggarai atau dianggap dilakukan warga Manggarai,” ujar Iyung.

Ia menyebut sejumlah lokasi yang selama ini dikenal berkaitan dengan tawuran di kawasan Manggarai, seperti kolong Manggarai, depan Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, Pintu Air Manggarai, hingga area belakang Stasiun Manggarai.

Menurut Iyung, penyebutan titik kejadian secara rinci justru diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

“Kalau kejadiannya di Bukit Duri, ya disebut Bukit Duri. Kalau memang ada keterkaitan dengan warga atau kelompok dari Manggarai, tentu itu harus berdasarkan informasi dan fakta di lapangan. Jangan sampai nama satu wilayah langsung menjadi label untuk semua orang yang tinggal di sana,” ujarnya.

Minta Verifikasi Lebih Cermat

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com