Gunung Anak Krakatau Erupsi 13 Kali dalam Semalam, PVMBG Minta Nelayan dan Wisatawan Jauhi Kawah!
Gunung Anak Krakatau alami 13 kali erupsi pada Rabu. PVMBG imbau nelayan dan wisatawan tak mendekati kawah dalam radius dua kilometer.
fin.co.id - Aktivitas vulkanik di kawasan perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan signifikan setelah kawah Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, mengalami letusan erupsi sebanyak 13 kali.
Ketinggian erupsi itu bervariasi mulai 50 hingga 300 meter dari puncak Gunung Anak Krakatau, terhitung sejak pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, Rabu, 26 Agustus 2026 mengatakan, Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif sehingga potensi erupsi susulan masih dapat terjadi.
“Sejak siang hingga sore hari terhitung sebanyak 13 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 47-56 mm, dan lama gempa 20-173 detik,” ujarnya.
Baca Juga
Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau secara intensif melalui pengamatan visual maupun instrumental untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api secara berkelanjutan.
“Erupsi itu terekam di Tremor Menerus dengan amplitudo 4-60 milimeter,” kata dia.
Menurutnya, peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Imbauan Keselamatan Bagi Wisatawan dan Nelayan Selat Sunda
Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
“Gunung Anak Krakatau masih dalam stasiun Level II, atau Waspada, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah, Gunung Anak Krakatau,” ucapnya.
Baca Juga
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum melaut.
Warga diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh lembaga berwenang.