Serangan Iran Hancurkan Fasilitas Intelijen AS di Timur Tengah hingga Rusak Parah
Serangan Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas intelijen dan peralatan pengawasan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Tingkat kerusakan tersebut bahkan disebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah badan intelijen AS.
fin.co.id - Serangan Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas intelijen dan peralatan pengawasan Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Tingkat kerusakan tersebut bahkan disebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah badan intelijen AS.
NBC News, mengutip sejumlah sumber, melaporkan kerusakan yang ditimbulkan serangan Iran terhadap fasilitas dan peralatan intelijen AS tergolong sangat parah.
Menurut laporan tersebut, biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki dan memulihkan fasilitas maupun peralatan yang terdampak diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.
Kerusakan itu terjadi setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah target.
Baca Juga
Konflik antara Iran, AS, dan Israel berlanjut dalam beberapa bulan berikutnya. Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan permusuhan.
Namun, kesepakatan tersebut tidak berlangsung lama. Kedua pihak kembali terlibat dalam aksi saling serang setelah nota kesepahaman ditandatangani.
Hingga kini, konflik tersebut belum sepenuhnya terselesaikan. Meski tidak ada permusuhan aktif yang berlangsung saat ini, ketegangan antara kedua negara masih belum mereda.
Di tengah situasi tersebut, AS memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington disebut berupaya memberikan tekanan finansial terhadap Teheran sebagai bagian dari strategi untuk mengakhiri konflik.
Laporan mengenai kerusakan fasilitas intelijen AS tersebut disampaikan NBC News dengan mengutip sejumlah sumber, sementara informasi terkait konflik tersebut juga diberitakan Sputnik dan RIA Novosti.