Politik . 27/08/2026, 08:47 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
"Jadi apapun yang diklarifikasi oleh PSI, Projo, itu sudah tidak berguna karena Jokowi saja yang disebelahnya Budi Arie, tidak menghentikan Budi Arie beribicara seperti itu," kata Ferdinand.
Ferdinand kemudian mengaitkan polemik tersebut dengan apa yang ia sebut sebagai kekuatan politik Solo.
"Makanya saya sampaikan bahwa sumber kekacauan ini semua adalah politik Solo, ya ini salah satu bukti yang mengomfirmasi dugaan saya," ujar Ferdinand.
Ia menilai terdapat kelompok politik dari Solo dan kepentingan ekonomi yang menurutnya sedang berhadapan dengan pemerintahan Presiden Prabowo.
"Karena yang punya kepentingan negara ini sekarang kacau, hanya kekuatan kelompok politik Solo yang berafiliasi dan berkolusi dengan para oligarki yang selama 10 tahun, Anda bayangkan mengelola tambang secara illegal, mengelola lahan punya negara ini secara illegal, mereka maling APBD, begal APBD, sekarang pada dipenjarakan, kini mereka terganggu, mereka ingin hentikan langkah Prabowo maka mereka melakukan gerakan politik untuk mendongkel Prabowo," kata Ferdinand.
Sebelumnya, dalam video yang beredar, Budi Arie terlihat duduk di samping Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan arahan kepada relawan Projo. Budi mengaku telah menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan perubahan politik yang berlangsung lebih cepat kepada Jokowi.
"Tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi, Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita masih ngomong Pemilu 2029-Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?" kata Budi Arie dalam video tersebut.
Budi Arie kemudian meminta para relawan tidak hanya mempersiapkan diri untuk skenario Pemilu 2029. Ia membuka kemungkinan adanya perubahan politik lebih cepat dengan merujuk pada apa yang disebutnya sebagai "percepatan sejarah".
"Insting saya ini ada sesuatu yang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Karena itu saya mau membuka wacana saja teman-teman. Supaya berpikir jangan hanya sekadar berpikir 29, harus ada pikiran lain alternatif manakala terjadi percepatan jalan," ujarnya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu berbagai spekulasi, termasuk mengenai kemungkinan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak berjalan hingga akhir masa jabatan pada 2029.
Budi Arie Minta Maaf:
Budi Arie kemudian memberikan klarifikasi setelah pernyataannya menjadi polemik. Ia meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman dengan pernyataannya.
"Saya, Budi Arie Setiadi, memohon maaf kepada pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut," kata Budi Arie.
Ia menegaskan bahwa pernyataan mengenai kemungkinan dinamika politik yang bergerak lebih cepat dari 2029 merupakan analisis pribadinya.
"Pernyataan tersebut tidak ada hubungan dan kait-mengkaitnya dengan Bapak Joko Widodo. Saya siap bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi karena analisa dan pernyataan saya tersebut," lanjutnya. *
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media