Viral! Tenaga Ahli KSP Ulta Levenia Jadi Sorotan Usai Curiga Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di RI
Melalui akun Instagram pribadinya, @leveenia, Ulta mempertanyakan apakah rangkaian bencana alam tersebut sepenuhnya terjadi secara alami atau ada kemungkinan lain di baliknya.
fin.co.id - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan jadi sorotam di media sosial setelah membahasa fenomena erupsi sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Melalui akun Instagram pribadinya, @leveenia, Ulta mempertanyakan apakah rangkaian bencana alam tersebut sepenuhnya terjadi secara alami atau ada kemungkinan lain di baliknya. Ia kemudian mengaitkannya dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) di Alaska.
Pernyataan tersebut disampaikan Ulta sebagai pemikiran pribadinya. Ia mengaku memiliki sikap skeptis dan tidak ingin begitu saja menerima penjelasan yang menurutnya sudah dianggap umum.
Ulta awalnya membuka pernyataannya dengan kemungkinan bahwa rentetan bencana tersebut memang merupakan fenomena alam.
Baca Juga
"HAARP atau beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima. [PEMIKIRAN PRIBADI]," tulis Ulta, dikutip fin pada Selasa 8 September 2026.
Namun, ia mengaku tetap mempertanyakan kemungkinan lain karena merasa dirinya merupakan orang yang skeptis. Menurutnya, sebuah penjelasan tidak semestinya langsung diterima tanpa mempertimbangkan kemungkinan lainnya.
"Tapi karena saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah harus diterima," lanjutnya.
Ulta Singgung Teori Konspirasi
Dari sikap skeptis tersebut, Ulta kemudian membuka kemungkinan munculnya teori lain yang dapat dikategorikan sebagai teori konspirasi.
Ia bahkan menyebut adanya anggapan bahwa sebagian teori konspirasi pada akhirnya dapat terbukti setelah informasi atau proyek tertentu dibuka kepada publik.
Baca Juga
"Maka ada alternatif lain, kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi. Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda," tulisnya.
Ulta juga menyinggung pengalaman di Amerika Serikat terkait informasi mengenai proyek yang baru dapat diketahui publik setelah proyek tersebut ditutup atau selesai.
"Kalau di Amerika, umurnya konspirasi 20-40 tahun, tergantung kapan sebuah project ditutup atau selesai dan sudah bisa untuk disclosed to public. Gak apa-apa deh kalau diserang buzzer habis ini, yang penting lega setelah ungkapin ini," katanya.
Selanjutnya, Ulta membawa nama HAARP. Ia mengatakan pernah membaca sejumlah referensi mengenai proyek tersebut dan menilai HAARP sudah cukup familiar bagi masyarakat yang mengikuti podcast luar negeri.
"Dari beberapa referensi yang pernah saya baca, dulu itu ada yang namanya Project HAARP. Ini kalau yang sering nonton podcast luar negeri pasti sudah familiar," ujarnya.