Viral! Tenaga Ahli KSP Ulta Levenia Jadi Sorotan Usai Curiga Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di RI
Melalui akun Instagram pribadinya, @leveenia, Ulta mempertanyakan apakah rangkaian bencana alam tersebut sepenuhnya terjadi secara alami atau ada kemungkinan lain di baliknya.
Ulta menyebut HAARP kerap dikaitkan dengan teori konspirasi. Ia juga menyinggung keterlibatan militer Amerika Serikat dalam pendanaan awal proyek tersebut.
"HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency)," tulisnya.
Meski demikian, dalam unggahannya sendiri Ulta mengakui belum terdapat bukti ilmiah yang mendukung klaim HAARP dapat mengendalikan cuaca, memicu badai hingga menyebabkan gempa bumi.
"Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi," lanjutnya.
Baca Juga
Pertanyakan Tujuan HAARP di Alaska
Ulta kemudian melihat keberadaan HAARP dari sudut pandang geopolitik dan intelijen. Ia menyebut proyek tersebut berkaitan dengan penelitian ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi.
"Kenapa ada gap conspiracy ini tentang Project HAARP, karena kalau dilihat dengan kacamata geopolitik dan intelijen, Project HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska," tulis Ulta.
Dari sana, ia mempertanyakan alasan militer Amerika Serikat membangun fasilitas pemancar radio berdaya tinggi di Alaska.
"Kemudian menimbulkan pertanyaan: untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?" ujarnya.
HAARP sendiri memang memiliki sejarah keterlibatan pemerintah dan militer Amerika Serikat. Namun, saat ini fasilitas tersebut berada di bawah pengelolaan University of Alaska Fairbanks. Situs resmi HAARP menjelaskan fasilitas tersebut digunakan untuk mempelajari ionosfer dengan pemancar radio frekuensi tinggi.
Baca Juga
Dalam FAQ resminya, HAARP juga menyatakan gelombang radio yang digunakan tidak diserap troposfer maupun stratosfer, dua lapisan atmosfer yang menghasilkan cuaca, sehingga fasilitas tersebut tidak dapat digunakan untuk mengendalikan cuaca.
Kaitkan dengan Erupsi 6 Gunung Api
Puncak pernyataan Ulta muncul ketika ia menghubungkan pembahasan HAARP dengan erupsi enam guung api di Indonesia yang terjadi dalam periode berdekatan.
Ia mengaku tetap membuka kemungkinan tersebut meski menyadari belum ada bukti ilmiah kredibel yang mendukungnya.
"Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran," tulisnya.