KSAL Sebut Kapal Induk KRI Gajah Mada Tak Perlu Pengawalan Saat OMSP
KSAL Laksamana Muhammad Ali pastikan kapal induk KRI Gajah Mada tak perlu pengawalan kapal perang saat jalani misi kemanusiaan.
fin.co.id - Pengoperasian aset strategis maritim Indonesia mendapat kepastian dari Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali yang memastikan bahwa kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi tidak perlu dikawal kapal perang saat menjalankan operasi militer selain perang (OMSP) di Indonesia.
"Kalau untuk OMSP, operasi kemanusiaan, itu tidak perlu dikawal," kata Muhammad Ali saat ditemui di Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Seskoal) di Jakarta Selatan, Rabu, 9 September 2026.
Menurut Muhammad Ali, sejak awal TNI AL memang ingin memfokuskan penggunaan kapal induk untuk misi kemanusiaan seperti penanggulangan bencana dan sebagainya.
Dengan kapasitas muatan Garibaldi yang besar, TNI AL mampu mengirim bantuan logistik dan pasukan ke daerah bencana dalam jumlah banyak.
Baca Juga
Namun demikian, Muhammad Ali tidak menutup kemungkinan jika ke depannya kapal induk itu akan dipakai untuk operasi militer di dalam ataupun luar negeri.
"Kalau untuk kepentingan operasi militer untuk perang (OMP), kemungkinan besar pasti dikawal oleh fregat-fregat yang sudah kita miliki," ujarnya.
Analisis Pengamat Maritim Mengenai Pengadaan Kapal Induk dan Gugus Tugas
Sebelumnya, Co-Founder Jakarta Defence Society (JDS) Ade P. Marboen menilai rencana TNI AL membeli kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi merupakan langkah tepat untuk memperkuat kekuatan maritim Indonesia.
Ade Marboen dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin, mengatakan Indonesia sudah seharusnya memperkuat kekuatan maritim mengingat statusnya sebagai negara kepulauan terbesar di Asia Pasifik.
Dengan kapal Induk, menurut Ade Marboen, TNI AL dapat dengan mudah mengoperasikan armada yang dapat menampung kekuatan udara maupun alat utama sistem senjata (alutsista) tempur.
Baca Juga
Tidak hanya itu, kapal induk juga dapat mendukung TNI AL membawa logistik untuk OMSP.
Namun demikian, Ade Marboen menekankan TNI AL perlu menyiapkan beberapa kapal pendamping untuk mengawal kapal induk saat beroperasi.
"Jenis kapal ini perlu diperkuat dengan kapal lain seperti LHD sebelum langkah berikutnya memiliki kapal induk, walaupun saat ini TNI AL sudah memiliki dua fregat terbesarnya (kelas KRI Brawijaya) dan armada kapal selam dari berbagai kelas," kata Ade Marboen.
Dia pun mencontohkan beberapa negara yang tidak pernah membiarkan kapal induk beroperasi sendiri melainkan selalu berada dalam satu gugus tugas.
Setiap kapal induk, kata Ade Marboen, selalu diiringi oleh dua kapal permukaan, satu kapal selam dan satu kapal suplai.