Nasional

KSAL Sebut Kapal Induk KRI Gajah Mada Tak Perlu Pengawalan Saat OMSP

KSAL Laksamana Muhammad Ali pastikan kapal induk KRI Gajah Mada tak perlu pengawalan kapal perang saat jalani misi kemanusiaan.

KSAL Sebut Kapal Induk KRI Gajah Mada Tak Perlu Pengawalan Saat OMSP
kapal induk KRI Gajah Mada tak perlu pengawalan kapal perang saat jalani misi kemanusiaan.

Hal tersebut dilakukan demi menjaga kapal induk yang merupakan bagian dari salah satu aset penting negara.

"Permasalahannya, TNI AL tidak terbiasa membentuk gugus tugas (task force) ketika ada aset strategis yang bergerak jarak jauh," kata Ade Marboen.

"Sebagai contoh adalah kapal BRS, KRI dr Radjiman Wedyodiningrat, yang melakukan misi kemanusiaan ke Mesir berjalan sendiri tanpa adanya pengawalan sehingga dapat menjadi sasaran empuk pihak-pihak tertentu," ujar Ade Marboen.

Catatan Masa Pakai, Komitmen Anggaran, dan Proyeksi Kekuatan TNI AL

Selain masalah gugus tugas, Ade Marboen juga menekankan TNI AL harus memperhitungkan tentang jangka pemakaian kapal induk yang seharusnya sudah pensiun pada 1 Oktober 2024 setelah dipakai angkatan laut Italia.

Walau pihak Fincantieri sebagai galangan kapal akan memperbaiki kapal sehingga dapat beroperasi selama 15 sampai 20 tahun ke depan, menurut dia, TNI tetap harus mempertimbangkan kualitas dari kapal tersebut.

"Dengan masa pakai 15-20 tahun, berarti 3-4 periode kepresidenan sehingga siapapun yang menjadi presiden harus memegang komitmen keras menyediakan anggaran operasional, pemeliharaan dan perawatan yang cukup," kata Ade Marboen.

"Akhir kata, pengadaan (bekas) kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi dapat meningkatkan kapabilitas TNI AL dalam hal proyeksi kekuatan dan sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan interoperabilitas trimatra terpadu," ujarnya.

Berita Terkait