Ekonomi

Tembus Peringkat 7 Global, Potensi Pasar Kripto Indonesia di Coinfest Asia 2026 Disorot Tokocrypto

CEO Tokocrypto Calvin Kizana soroti potensi besar pasar kripto Indonesia di Coinfest Asia 2026, ingatkan pentingnya pemahaman lokal dan regulasi.

Tembus Peringkat 7 Global, Potensi Pasar Kripto Indonesia di Coinfest Asia 2026 Disorot Tokocrypto
Tembus Peringkat 7 Global, Potensi Pasar Kripto Indonesia di Coinfest Asia 2026 Disorot Tokocrypto

fin.co.id - Pasar kripto Indonesia kerap luput dari sorotan dunia dan dipandang sebelah mata, meskipun memiliki skala serta tingkat adopsi masif yang mengungguli sejumlah hub finansial regional. Pandangan tersebut disampaikan langsung oleh CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, di tengah fase pemulihan harga Bitcoin yang kembali bergerak di atas level US$80.000 di tengah kehati-hatian sentimen makroekonomi global.

“Dari perspektif saya, Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang underrated, potensinya paling dipandang sebelah mata,” ujar Calvin saat menjadi pembicara dalam panel diskusi bertajuk Go-to-Market Strategy in Asia's Crypto Market di ajang Coinfest Asia 2026.

Pernyataan tersebut sejalan dengan data global dari Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025. Indonesia tercatat menduduki peringkat ke-7 dari 151 negara untuk tingkat adopsi kripto berbasis akar rumput (grassroots), bahkan melompati posisi Singapura yang gagal menembus jajaran 10 besar.

Di tingkat domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital di Tanah Air telah menyentuh angka 22,93 juta pada Juli 2026. Nilai transaksinya pun melambung hingga Rp20,52 triliun, ditopang oleh ekonomi digital Indonesia yang mendekati valuasi US$100 miliar berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025.

“Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi,” tegas Calvin.

Menurutnya, Indonesia sering kali disalahpahami oleh pelaku industri global akibat dua asumsi keliru. Pertama, anggapan bahwa seluruh negara di Asia Tenggara dapat didekati menggunakan satu strategi seragam. Padahal, regulasi, kebiasaan pembayaran, budaya, hingga ekspektasi konsumen di Indonesia sangat kontras dibandingkan Singapura, Vietnam, Thailand, maupun India.

Kedua, banyak proyek pendanaan besar meyakini bahwa modal melimpah dapat menggantikan pemahaman pasar lokal, termasuk mengandalkan strategi pemasaran influencer secara agresif demi mendulang pengguna instan.

“Uang bisa membeli awareness, bisa membeli download, bahkan bisa membeli volume sementara. Tapi uang tidak bisa membeli kepercayaan karena kepercayaan tidak bisa dipotong jalan pintas,” ujar Calvin.

Oleh karena itu, Tokocrypto menekankan pentingnya pembangunan fondasi yang mengutamakan tata kelola serta regulasi ketat. Perusahaan telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 dan ISO 27017, menerapkan sistem keamanan berlapis 24/7, verifikasi biometrik, rutin mempublikasikan laporan Proof of Reserves, serta terdaftar resmi di bawah pengawasan OJK dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

Memasuki fase selanjutnya, Calvin menilai arah perkembangan kripto di Indonesia harus bergeser dari sekadar adopsi ritel menuju utilitas keuangan teregulasi, peningkatan partisipasi institusional, hingga proyek tokenization. Pelaku industri luar pun diingatkan agar menghindari jalan pintas dengan menyalin mentah-mentah strategi regional demi sukses berekspansi di Indonesia.

“Jangan pernah menyalin mentah-mentah strategi yang berhasil di negara asal Anda,” pungkasnya.

Berita Terkait