Viral

Awal Mula Warga dan Siswa Curiga Kepsek dan Bu Guru PPPK Sering Mesum di Ruangan hingga Pasan CCTV

Kasus hubungan seksual yang melibatkan seorang kepala sekolah (kepsek) dan guru SD di Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) beredar di media sosial.

Awal Mula Warga dan Siswa Curiga Kepsek dan Bu Guru PPPK Sering Mesum di Ruangan hingga Pasan CCTV
Kepsek dan bu Guru PPPK mesum

"Desas-desusnya di luar itu kan sudah kencang," ujarnya.

Karena kabar tersebut semakin berkembang, komite sekolah yang melibatkan wali murid, warga, alumni hingga tokoh masyarakat kemudian berupaya mencari kejelasan.

Namun, karena belum ada bukti yang bisa memastikan kebenaran informasi tersebut, komite sekolah memilih memasang CCTV pada Juli 2026.

Pemasangan kamera pengawas dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan memastikan tidak ada tuduhan yang dilontarkan tanpa bukti.

"Sebelumnya, belum ada bukti, sehingga Juli lalu komite sekolah memasang CCTV, untuk memastikan dan membuktikannya," katanya.

Warga tersebut menambahkan, pemasangan CCTV juga dilakukan karena menyangkut keamanan dan kenyamanan anak-anak yang bersekolah di tempat tersebut.

"Warga juga menyekolahkan anak-anaknya di sini. Apalagi ada desas-desusnya seperti itu," ujarnya.

Sempat Dipergoki Guru dan Wali Murid

Tokoh Desa Kedungwuni, Saim (46), membenarkan bahwa pemasangan CCTV dilakukan setelah muncul kecurigaan yang cukup lama.

Menurut Saim, dugaan perilaku kedua oknum tersebut bahkan disebut terjadi berulang kali pada hari-hari tertentu.

"Itu dilakukan bukan hanya sekali. Bahkan itu sudah menjadi kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap hari Rabu dan hari Sabtu," katanya.

Sebelum CCTV dipasang, dugaan tersebut disebut sempat diketahui oleh sejumlah guru dan wali murid. Namun, ketika mendapat teguran, kedua orang yang bersangkutan disebut mengelak.

"Nah, sempat... Iya, sempat kepergok dengan guru, sempat kepergok dengan wali murid, ketika ditegur itu mengelak," ungkapnya.

Situasi tersebut kemudian mendorong komite sekolah bersama karyawan lainnya memasang kamera pengawas untuk memperoleh bukti.

Menurut Saim, komite sekolah dan karyawan sekolah bahkan mengumpulkan uang secara patungan untuk membeli CCTV dengan biaya sekitar Rp200 ribu.

Berita Terkait