Internasional

Iran Tantang AS! Tak Mau Menyerah, Teheran Siapkan Balasan yang Lebih Mengerikan

Iran tengah mempersiapkan diri menghadapi perang yang lebih intens apabila serangan Amerika Serikat terhadap wilayah dan infrastruktur Iran terus berlanjut.

Iran Tantang AS! Tak Mau Menyerah, Teheran Siapkan Balasan yang Lebih Mengerikan
Iran

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang sebelumnya ikut dalam perundingan gencatan senjata dengan AS, memperingatkan bahwa era "respons proporsional" telah berakhir.

Pernyataan tersebut cukup penting karena mengindikasikan kemungkinan perubahan pola serangan Iran.

Jika sebelumnya respons Iran dibuat dengan mempertimbangkan skala serangan lawan, kini Teheran memberikan sinyal bahwa balasan berikutnya dapat dibuat lebih keras.

Kondisi tersebut tentu meningkatkan risiko terjadinya eskalasi yang lebih luas. Serangan yang awalnya terbatas dapat berkembang menjadi konflik terbuka apabila masing-masing pihak terus menaikkan level responsnya.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Rawan

Salah satu titik paling panas dalam konflik ini adalah Selat Hormuz.

Selat tersebut memiliki posisi sangat strategis bagi perdagangan energi global. Jalur sempit itu menjadi salah satu pintu utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Dalam konflik dengan AS, Iran bersikeras memiliki hak untuk mengatur lalu lintas kapal yang melewati wilayah tersebut. Kapal yang melintas tanpa izin Iran disebut berisiko menjadi sasaran.

Sementara itu, Amerika Serikat berusaha mempertahankan akses pelayaran melalui Selat Hormuz. Washington bahkan melakukan tindakan militer dengan alasan menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.

Masalahnya, kedua kepentingan tersebut saling bertabrakan.

Semakin Iran meningkatkan tekanan terhadap kapal yang melintas, semakin besar kemungkinan AS melakukan serangan balasan. Sebaliknya, setiap serangan Amerika terhadap Iran dapat menjadi alasan bagi Teheran untuk meningkatkan serangan berikutnya.

Inilah yang membuat Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling rawan dalam perang AS-Iran.

Harga Minyak Brent Tembus US$100

Dampak perang tidak hanya terasa di medan konflik. Gejolak tersebut juga mulai mengguncang pasar energi dunia.

Berita Terkait