Internasional

Iran Tantang AS! Tak Mau Menyerah, Teheran Siapkan Balasan yang Lebih Mengerikan

Iran tengah mempersiapkan diri menghadapi perang yang lebih intens apabila serangan Amerika Serikat terhadap wilayah dan infrastruktur Iran terus berlanjut.

Iran Tantang AS! Tak Mau Menyerah, Teheran Siapkan Balasan yang Lebih Mengerikan
Iran

Harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel pada Rabu (9/9/2026). Dengan asumsi nilai tukar US$1 sekitar Rp16.500, harga tersebut setara dengan sekitar Rp1,65 juta per barel.

Kenaikan ini membuat harga minyak Brent melonjak sekitar 65 persen sepanjang tahun berjalan.

Lonjakan harga minyak menjadi kabar buruk bagi negara-negara yang sangat bergantung pada energi impor. Harga bahan bakar dan biaya transportasi berpotensi ikut terdorong naik.

Amerika Serikat juga menghadapi tekanan dari sisi domestik. Harga solar di negara tersebut bahkan dilaporkan mencapai rekor pada pekan sebelumnya.

Kondisi itu membuat perang menjadi persoalan ekonomi sekaligus politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

AS Mulai Perkuat Tekanan Ekonomi

Amerika Serikat kini tidak hanya mengandalkan kekuatan militernya untuk menghadapi Iran.

Washington juga menggunakan tekanan ekonomi dan blokade untuk memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz serta kembali ke meja perundingan.

AS bahkan mengancam pemerintah maupun perusahaan yang masih mempertahankan hubungan dengan Iran.

Strategi tersebut mulai memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran. Blokade membuat Teheran semakin kesulitan mengekspor minyak dan mengimpor sejumlah barang penting.

Inflasi di Iran disebut telah mendekati 90 persen. Pada saat yang sama, nilai tukar mata uang rial terus mengalami pelemahan.

Tekanan ekonomi tersebut jelas menjadi persoalan serius bagi pemerintah Iran. Sebelumnya, kondisi ekonomi juga telah menjadi salah satu pemicu demonstrasi besar pada akhir tahun lalu yang kemudian ditindak aparat.

Iran Terjepit, tetapi Belum Mau Menyerah

Meski berada dalam tekanan besar, bukan berarti seluruh elite Iran memiliki pandangan yang sama mengenai perang.

Di dalam pemerintahan Iran terdapat perdebatan mengenai jalan keluar dari konflik. Sejumlah pejabat, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, pernah menyampaikan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat diperlukan untuk mengurangi tekanan ekonomi.

Berita Terkait