Viral . 16/09/2026, 13:48 WIB
Penulis : Ari Nur Cahyo | Editor : Ari Nur Cahyo
fin.co.id - Tradisi "Makan Batalam Bekipas Pangeran" dalam peringatan Maulid Nabi di Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Sebuah video yang merekam momen sejumlah tamu makan bersama dalam satu talam, lengkap dengan orang-orang yang mengipasi mereka menggunakan kipas tangan, memicu beragam reaksi warganet.
Sebagian pengguna media sosial mempertanyakan tradisi tersebut karena menganggapnya tidak relevan dengan perkembangan zaman. Bahkan, beberapa netizen melontarkan kritik pedas dengan menuding tradisi itu sebagai bentuk feodalisme.
“Ini bentuk feodalisme kok dilestarikan,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.
Komentar lain menyoroti penggunaan tenaga manusia untuk mengipasi tamu di tengah ketersediaan teknologi modern. Pengguna lain menyindir dengan menyebut keberadaan kipas angin elektrik yang jauh lebih praktis.
Di tengah gelombang perdebatan publik, akun resmi publikasi kegiatan kepala daerah Kabupaten Tabalong memberikan klarifikasi untuk meluruskan pemahaman masyarakat.
Berdasarkan penjelasan akun @prokopim_tabalong, "Makan Batalam Bekipas Pangeran" merupakan warisan budaya masyarakat Banjar yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini sarat akan nilai kebersamaan, eratnya silaturahmi, serta bentuk penghormatan tinggi kepada tamu agung.
Ciri khas utama tradisi tersebut tampak dari kebiasaan para peserta menyantap hidangan bersama-sama menggunakan satu talam besar.
“Tradisi ‘Makan Batalam Bekipas Pangeran’ dari Kecamatan Banua Lawas merupakan warisan budaya ratusan tahun masyarakat Banjar yang melambangkan kebersamaan, silaturahmi, dan penghormatan kepada tamu agung dengan makan bersama dari satu talam,” tulis pihak Prokopim Tabalong.
Selain itu, pemerintah daerah menegaskan bahwa tradisi unik ini sudah mengantongi pengakuan resmi dari Kementerian Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat memahami konteks budaya di balik tradisi tersebut, alih-alih memberikan penilaian negatif tanpa informasi yang utuh.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media